Dr.Irwandi Sihombing, S.Ag., S.PdI., MA mendampingi Bupati Tapanuli Tengah Bakhtiar Ahmad Sibarani di Sipogu Pinangsori.
RUNNING TEXT
Senin, 13 November 2017
Jumat, 10 November 2017
13 Keutamaan Berdoa Dalam Islam Paling Mustajab
Semua hal yang baik selalu memiliki banyak keutamaan khususnya dalam hal ibadah seperti shalat, haji, keutamaan bersedekah dan berbagai amalan baik lainnya. Dengan semakin mendalami dan belajar mengenai keutamaan, maka kita sebagai umat muslim akan selalu terpacu untuk melaksanakan banyak amal kebaikan dalam Islam. Pada ulasan kali ini, kami akan mengulas tentang keutamaan berdoa dalam islam yang bisa anda dapatkan.
ads
Peredam Murka Allah
Doa merupakan cara terbaik untuk meredam murka Allah SWT, sebab Allah SWT sangat membenci hamba-Nya yang tidak pernah meminta pada Allah SWT dan akhirnya membuat Allah SWT jadi murka.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak meminta pada Allah, maka Allah akan murka padanya.” (HR. Tirmidzi no. 3373. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan)
Pengenalan Terhadap Allah SWT Yang Baik
Kegunaan berdoa berikutnya adalah sebagai bukti dari fungsi iman kepada Allah SWT dan juga sebagai sarana untuk mengenal Allah SWT dengan lebih baik dalam rubbubiyah, uluhiyah dan juga segala sifat-Nya. Doa yang dipanjatkan hamba pada Rabbnya memperlihatkan jika ia meyakini Allah dimana Allah SWT Maha Ghoni atau maha mencukupi, Maha melihat, Maha mulia, Maha mampu dan Maha pengasih sehingga sangat patut beribadah tidak pada selainnya.
Tawakal Pada Allah
Doa juga memperlihatkan bukti dari manfat tawakal seseorang pada Allah SWT karena disaat berdoa, maka seseorang meminta tolong pada Allah SWT sehingga ia sekaligus juga menyerahkan segala masalah dan kesulitan yang sedang dialami hanya pada Allah SWT dan tidak pada selain-Nya.
Ibadah
Terkadang dalam kehidupan, kita seringkali tidak peduli dengan dia yang terjadi karena rasa percaya diri terlalu berlebihan atau sedang berada dalam kehidupan yang berkecukupan. Namun yang perlu diketahui adalah jika doa merupakan bagian dari ibadah.
Rasulullah SAW bersabda, “Doa adalah ibadah”, kemudian beliau membaca ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu”. [Ghafir : 60].
Doa Merupakan Ibadah Paling Mulia
Perlu diketahui jika doa merupakan hal yang paling mulia di mata Allah SWT dan tidak ada ucapan yang lebih mulia melebihi doa di sisi Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah daripada doa”. [Sunan At-Tirmidzi, bab Do’a 12/263, Sunan Ibnu Majah, bab Do’a 2/341 No. 3874. Musnad Ahmad 2/362]. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu“. [Al-Hujurat : 13].
Menolak Takdir Allah SWT
Doa juga merupakan hal baik yang dilakukan sebab bisa menolak takdir yang tidak bisa dilakukan dengan cara lain selain berdoa. Yang dimaksud dengan takdir disini adalah bergantung dari doa seperti berdoa agar tidak terkena musibah dan sebagainya.
Sponsors Link
“Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa”. [Sunan At-Tirmidzi, bab Qadar 8/305-306]
Terhindar Dari Bencana
Memanjatkan doa juga akan bermanfaat sebagai cara menghadapi musibah dalam Islam sebab doa seorang mukmin tidak mungkin ditolak. Namun, doa ini bisa ditunda dan digantikan dengan sesuatu yang jauh lebih maslahat dibandingkan yang diminta baik untuk di dunia maupun di akhirat.
“Dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku“. [Maryam : 48]
Menenangkan Hati
Doa kepada Allah SWT merupakan salah satu cara agar hati tenang dalam Islam sekaligus mendapatkan faedah baik di dunia dan akhirat. Saat berdoa, maka suasana hati juga terasa lebih tenteram karena mengingat Allah SWT.
Allah SWT berfirman, “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” ( QS. Ar Ra’du : 28).
Menghilangkan Rasa Putus Asa
ads
Dengan berdoa, maka perasaan putus asa dalam menghadapi masalah akan lenyap seketika dan lebih termotivasi untuk menghadapi cobaan di dalam hidup sekaligus tetap bersikap positif dalam menanggapi sebuah kegagalan sebab bahaya putus asa dalam Islam sangat berdampak buruk dalam kehidupan. Allah SWT menjadi tempat sandaran terbaik baik setiap hamba untuk bisa bangkit kembali dan Allah SWT sendiri juga sudah memberi jaminan untuk mengganti kegagalan yang sudah dialami dengan sesuatu hal yang jauh lebih baik.
Memperlihatkan Keagungan Allah SWT
Selain keutamaan berdoa dalam islam, berdoa juga memiliki fungsi untuk memperlihatkan keagungan Allah SWT pada setiap hamba-Nya yang lemah. Dengan berdoa, maka manusia menyadari jika hanya Allah SWT yang bisa memberikan kenikmatan, menerima taubat dan juga mengabulkan segala doa yang dipanjatkan.
Allah SWT berfirman, “Siapa yang memperkenankan [doa] orang yang mengalami kesulitan dan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi?. Apakah di samping Allah SWT ada Tuhan [yang lain]?, amat sedikitlah kamu mengingat-Nya”. [QS. An Naml: 62].
Belajar Rasa Malu Pada Allah SWT
Berdoa juga akan mengajarkan rasa malu kita pada Allah SWT, sebab disaat Allah SWT mengabulkan doa yang dipanjatkan, maka seseorang akan merasa malu untuk mengingkari segala nikmat-Nya. Saat manusia ada di puncak keimanan sekali pun, maka seseorang yang rajin berdoa akan semakin dekat [taqarrub] untuk mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT.
Meningkatkan Taqwa
Berdoa sangat baik dilakukan sebagai cara meningkatkan iman dan taqwa pada Allah SWT. Dalam kehidupan terdapat lahir dan batin seperti halnya doa dan usaha dimana artinya doa yang dipanjatkan namun tidak diikuti dengan usaha, maka perbuatan ini adalah sia sia. Sebaliknya, usaha yang tidak diikuti dengan doa, maka kurang berkah sebab iman secara batin akan lebih sulit untuk dilihat dan yang terlihat hanyalah taqwa.
Mencari Kebaikan dan Menjauhkan Menolak Kemadharatan
Doa merupakan cara terbaik agar pintu rahmat bisa terbuka secara lebar dan Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang selalu meminta. Doa juga berguna terhadap sesuatu yang bahkan belum terjadi sehingga sangat baik untuk dilakukan.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa diantara kalian telah dibukakan baginya pintu doa, pasti dibukakan pula baginya pintu rahmat, dan tidaklah Allah diminta sesuatu yang Dia berikan lebih Dia senangi dari pada diminta kekuatan.” Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “sesungguhnya doa itu bermanfaat baik terhadap apa yang terjadi maupun belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa.” [HR. At-Tirmidzi V/552] no.3548
Pacaran Dalam Islam – Hukum, Bahaya dan Akibatnya
Headline
Mencukur Bulu Kemaluan Pria Dalam Islam
09:55:53 am
Friday 10th, November 2017 /
24 November,2015
Dalam Islam
Home
Dasar Islam
Akhlaq
Doa dan Dzikir
Hukum Islam
Info Islami
Makanan dan Minuman
Home » Akhlaq » Larangan » Pacaran Dalam Islam – Hukum, Bahaya dan Akibatnya
Pacaran Dalam Islam – Hukum, Bahaya dan Akibatnya
Dewasa ini, bukanlah hal yang baru lagi ketika kita melihat pasangan remaja putera dan puteri dipinggir jalan, di kafe, restoran, jembatan, atau di mana saja. Mereka nampak asyik mengumbar yang katanya disebut sebagai sesuatu yang mesra itu. Menunjukkan betapa bahagianya mereka saling memiliki satu sama lain dibalik sebuah—yang katanya—jalinan hubungan bernama pacaran.
ads
Tidak segan oleh mereka berdua-duaan baik di tempat umum bahkan di tempat yang jauh dari keramaian. Padahal, Rasulullah SAW bersabda yang artinya;
“Tidak boleh antara laki-laki dan wanita berduaan kecuali disertai oleh muhrimnya, dan seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali ditemani oleh muhrimnya.” (H. R. Muslim)
Oh, salah jika hanya menyebut para remaja saja yang berbuat demikian, karena orang dewasa pun juga banyak yang melakukannya. Sedihnya, budaya pacaran itu bahkan sudah menancapkan akarnya pada anak-anak belia yang masih duduk dibangku sekolah dasar berseragam merah dan putih. Sungguh miris sekali.
Sebetulnya, budaya pacaran itu adalah budaya asing yang masuk ke Indonesia akibat daripada globalisasi. Karena filter yang kurang, akhirnya banyak yang ikut terjerumus dalam budaya tersebut. Padahal, harusnya diketahui bahwa pacaran tidak lain adalah perbuatan dosa yang ujungnya akan mendekati kepada zina yang merupakan dosa besar.
Hukum Pacaran dalam Islam
Tidak pernah dibenarkan adanya hubungan pacaran di dalam Islam. Justru sebaliknya, Islam melarang adanya pacaran di antara mereka yang mukan muhrim karena dapat menimbulkan berbagai fitnah dan dosa. Dalam Islam, pacaran adalah haram. Oleh sebab itu, Islam mengatur hubungan antara lelaki dan perempuan dalam dua hal, yakni:
Hubungan Mahram
Yang dimaksud dengan hubungan mahram, seperti antara ayah dan anak perempuannya, kakak laki-laki dengan adik perempuannya atau sebaliknya. Oleh karena yang mahram berarti sah-sah saja untuk berduaan (dalam artian baik) dengan lawan jenis.
Sebab, dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 23 disebutkan bahwa mahram (yang tidak boleh dinikahi) daripada seorang laki-laki adalah ibu, nenek, saudara perempuan (kandung maupun se-ayah), bibi (dari ibu maupun ayah), keponakan (dari saudara kandung maupun sebapak), anak perempuan (anak kandung maupun tiri), ibu susu, saudara sepersusuan, ibu mertua, dan menantu perempuan. Dalam hubungan yang mahram, wanita boleh tidak memakai jilbab tapi bukan mempertontonkan auratnya.
Hubungan Non-mahram
Selain daripada mahram, artinya laki-laki dibolehkan untuk menikahi perempuan tersebut. Namun, terdapat larangan baginya jika berdua-duaan, melihat langsung, atau bersentuhan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Untuk perempuan, harus menggunakan jilbab dan menutup seluruh auratnya jika berada di sekitar laki-laki yang bukan mahramnya tersebut.
Bahaya Pacaran dalam Agama Islam
Islam melarang pacaran bukan tanpa sebab. Pacaran itu, selain daripada mendekati zina yang merupakan dosa besar, juga bisa menimbulkan berbagai macam bahaya yang kesemuanya tidak hanya akan merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain.
Terkhusus bagi remaja yang sudah terjerumus dalam budaya pacaran tersebut, berikut adalah bahaya yang semetinya mereka dan orang tua ketahui agar segera bisa meninggalkan perilaku tersebut. Juga bagi remaja yang tidak melakukannya, agar semakin berhati-hati agar tidak terjerumus:
1. Mudah terjerumus ke perzinaan
Seringkali remaja akan menyangkal bahwa mereka tidak akan melakukan hal-hal yang demikian. Mereka akan berpacaran yang sehat, katanya. Padahal, tidak ada berpacaran yang sehat kecuali setelah menikah. Bagaimanapun juga, pacaran adalah perbuatan dosa. Setiap manusia yang berbuat dosa, iblis adalah temannya.
Sponsors Link
Sehingga kemana pun ia berpijak, akan ada iblis yang senantiasa menemani dan membisikinya rayuan-rayuan kemaksiatan sehingga ia semakin terlena dalam berbuat dosa. Awalnya hanya berpandangan, kemudia berpegangan tangan, mulai berdua-duaan, dan akhirnya melakukan yang tidak sepantasnya untuk dilakukan.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya;
“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (H. R Bukhari).
2. Melemahkan iman
Sudah dari akarnya bahwa pacaran itu dosa. Setiap orang yang berbuat dosa, ada iblis yang menemaninya. Meniupkan berbagai rayuan agar orang itu semakin terjerumus dalam dosa. Iming-imingnya sangat banyak, padahal kesemuanya hanya pemuas nafsu belaka. Bahkan, yang awalnya tidak tergoda pun bisa saja terjerumus.
Akhirnya, banyak waktu dihabiskan hanya untuk sang Pacar. Cinta setengah mati, katanya. Sampai-sampai cinta pada Sang Pemilik Nyawa pun terabaikan. Setiap hari hanya mengingat wajah kekasih, namun lupa pada Allah SWT. Naudzubillah, sungguh yang demikian sudah menjadi orang yang tersesat.
3. Mengajarkan kepada kemunafikkan
Orang yang pacaran itu mengajarkan diri untuk menjadi munafik. Berbohong ini itu hanya demi membuat si pacar senang. Bahkan mengumbar janji-janji yang belum tentu bisa ditepati bahkan tak jarang aslinya hanya bualan semata. Berusaha menunjukkan sisi terbaik padahal dibelakangnya seling mencela.
Sering mengumbar rayuan romantis hanya agar si pacar tidak curiga. Tidak hanya dihadapan sang pacar, tapi juga akan melakukan hal yang sama di hadapan orang tua. Jadilah mereka sebagai pembohong yang luar biasa.
4. Mengurangi produktivitas dan minat belajar
Siapa bilang pacaran bisa meningkatkan semangat belajar? Coba pikirkan kembali ke dasarnya bahwasanya pacaran itu adalah dosa. Selama berpacaran, artinya Anda akan terus memupuk dosa sepanjang waktu. Dari tiap-tiap yang namanya dosa, tidak akan terdapat kebaikan di dalamnya.
Justru sebaliknya, waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk belajar, justru lebih banyak dihabiskan bersama pacar. Uang pemberian orang tua yang semestinya dipakai untuk kepentingan pendidikan, malah dipakai untuk bersenang-senang. Zaman sekarang, dedikasi tinggi kepada pacar nampaknya adalah prioritas utama dibandingkan dengan diri sendiri.
Akhirnya, tak jarang banyak yang malas belajar, sering tidak mengerjakan tugas, kebanyakan berhayal, lalu ujung-ujungnya adalah keteteran dan tinggal kelas atau terlambat wisuda.
5. Menjadikan hidup boros
Seringkali memberikan ini itu kepada pacar bahkan lebih sering daripada apa yang dilakukan kepada orang tua sendiri. Padahal, apa yang diperoleh dari semua itu? Apakah dengan membelikan atau mentraktir sesuatu terhadap pacar maka artinya kita berinvestasi di dalam masa depan?
Justru sebaliknya, pacaran hanyalah penyebab kantong kering yang akan membuat kepala pusing hingga nanti ujung-ujungnya merengeklah pada orang tua untuk mendapat tambahan uang belanja sekaligus berpura-pura.
6. Pemicu tindak kriminal
Ini mengerikan. Ketika mendengar berita tentang remaja yang membunuh remaja lainnya hanya karena berebut pacar. Luar biasa. Katakanlah dengan kasar, bahwa mereka lebih rendah daripada hewan sekalipun.
Sponsors Link
Padahal, manusia memiliki akan, bukan? Apakah dengan menghilangkan nyawa orang lain, maka akan berjodoh dengan pacar yang diperebutkan? Yang ada, Anda akan berjodoh dengan iblis dan bersama-sama menghuni neraka.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, beliau memberikan saran seperti berikut;
“Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu.” (H. R. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).
Ingat, pacaran itu DOSA!
Hukum Pacaran dalam Agama Islam
Umat Muslim Wajib Tahu, Apa Hukum Pacaran Dalam Islam
Oleh ilmiawan reza
Di tengah masyarakat kita ini masih pada belum mengetahui makna apa hukum pacaran dalam islam. Terutama disaat remaja dan sudah dewasa ini perlu kita jelaskan dengan sebaik mungkin.
Dan di dalam pembahasan ini sangat banyak sekali mulai dari hukum pacaran menurut islam, pacaran menurut islam, hukum pacaran, pacaran menurut pandangan islam, hukum berpacaran dalam islam, pacaran menurut pandangan islam, pacaran dalam pandangan islam, hukum pacaran menurut islam, hukum berpacaran dan masih banyak lagi yang belum kita ketahui.
Agar para remaja ini yang masih statusnya agama islam wajib untuk mengetahui hukum pacaran jarak jauh dalam islam yang sebenar-benarnya.
Pacaran biasanya dilakukan untuk menjalin kasih sayang antara kedua pelaku yaitu laki dan perempuan, hanya untuk saling mencintai sesaat aja
Terkadang saya juga mengetahui saat berpacaran ada yang serius dan berniat untuk memilih pasangan hidup yang sebenarnya yaitu untuk menikah dengan wanita tersebut.
Namun yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana hukum pacaran dalam syariat islam, ini kita sebagai umat muslim wajib untuk mengetahuinya.
Karena dimasa sekarang ini pacaran merupakan hal yang sudah umum dilakukan oleh para remaja pada zaman sekarang ini, dan seluruh remaja muslim di tanah air.
Tentu kita harus mengetahui hukum dalam pacaran, sekarang saya ingin bertanya kepada Anda? Apakah pacaran itu dibolehkan atau diharamkan.
Ini hanya mengingat dalam melakukan kata kata larangan istilah pacaran dalam isalm untuk mencari kesenangan saja, untuk dilakukan berduaan, bersentuhan, berpelukan dan lain sebagainya.
Baca Juga Bacaan dan Niat Doa Sholat Hajat | Bahasa Arab, Latin, dan Artinya
Hukum larangan pacaran menurut islam adalah mutlak Haram dan tidak ada perdebatan sama sekali. Dengan ini kita sesama muslim wajib saling mengingatkan masyarakat muslim sendiri.
Orang tua juga harus mengetahui situasi anak-anaknya yang belajar di sekolah umum, terkadang orang tua hanya membiarkan anaknya untuk pacaran, seharusnya lebih baik orang tua harus menasihati anaknya, agar anaknya tidak pacaran.
Tahukah Anda sebagai orang tua punya berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik sesuai ajaran agama islam.
Kita sudah tau pacaran itu hukumnya haram, kalau kita lakukan dengan sengaja maka dosa kita akan dicatat oleh Allah.
Saudara-sadaraku kaum muslimin, bahwasanya firman Allah dalam kitabnya dan sabda Rasulullah SAW. Dalam sunnah nya serta ijma’ para ulama dan firman Allah tentang pacaran haramnya zina dan sesungguhnya dia termasuk kekejian dan dosa besar.
Muslimah Penulis Pertama
Sejarah peradaban Islam melahirkan tokoh-tokoh penting dalam kemajuan agama Islam. Baik mereka yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad SAW maupun setelahnya. K
etokohan mereka pun bermacam-macam sesuai keahliannya. Salah satunya Al-Shifa binti Abdullah, perempuan pertama yang memiliki kemampuan menulis di Makkah pada zaman Nabi Muhammad SAW. Itu sebabnya, perannya pada awal sejarah Islam di Makkah sangat besar dalam mengajar kan membaca dan menulis kepada kaum Muslimin, termasuk kepada Hafsah binti Umar.
Pada masa itu, tidak banyak perempuan yang memiliki kemampuan menulis dan membaca. Pasalnya, orang Arab mayoritas tidak berpendidikan. Apalagi, dalam masyarakat pra-Islam pendidikan adalah cita-cita yang umumnya tidak terpikirkan oleh perempuan.
Al-Shifa merupakan putri dari pasangan Abdullah bin Abd Shams dan Fatima bint Wahb. Ia menikah dengan Abu Hatma ibn Hudhaifa dan dikaruniai dua anak, yaitu Sulaiman dan Masruq. Sulaiman tumbuh se bagai anak yang religius.
Al-Shifa merupakan perempuan dengan reputasi baik p ada masa itu. Rasulullah sering berkonsultasi dengan Al-Shifa terkait bisnis. Reputasi Al-Shifa yang dikenal bijak membuat Khalifah Umar menunjuknya sebagai inspektur di Madinah. Keahlian lainnya yang dimiliki oleh Al-Shifa adalah kemampuannya dalam dunia intelijen. Ia dihormati dan disegani karena semangat belajarnya yang tinggi.
Selain itu, Al-Shifa juga memiliki keahlian dalam hal medis. Rasulullah memintanya mengajari Hafsah tentang ilmu pengobatan, khususnya mengatasi penyakit kulit. Saat itu, keahlian Al-Shifa dalam dunia medis masih jarang dimiliki oleh banyak orang. Sebab, kedokteran merupakan disiplin ilmu yang belum berkembang waktu itu.
Dalam sebuah artikel yang dimuat Arabnews, disebutkan bahwa keahlian Al-Shifa dalam pengobatan sudah dimilikinya sebelum masuk Islam. Setelah me meluk Islam, Al-Shifa berta nya kepada Rasulullah apakah dirinya masih diperbolehkan melanjutkan keahliannya da lam dunia medis. Rasulullah me minta agar Al-Shifa melanjutkannya, bahkan mendukung penuh. Sikap Rasulullah tersebut menunjukkan bahwa ia selalu mendorong dan memastikan bahwa praktik yang dilakukannya sejalan dengan ajaran Islam.
Al-Shifa termasuk orang yang ikut hijrah bersama nabi ke Madinah. Di Madinah ia memiliki rumah yang letaknya berada di antara masjid dan pasar dan nabi sering kali mengunjunginya. Al-Shifa banyak bertanya tentang agama kepa da nabi. Masyarakat Madinah terus berkembang pesat. Tran saksi jual beli di pasar juga te rus menunjukkan geliatnya. Ka rena itu, pasar sebagai sim bol pergerakan ekonomi mem buat sahabat Umar merasa per lu ada yang mengawasi.
Umar kemudian menunjuk Al-Shifa sebagai pengendali pa sar di Madinah. Al-Shifa di berikan tugas oleh Umar untuk memastikan praktik jual beli di pasar sesuai dan konsisten de ngan ajaran Islam. Dia diminta berkeliling pasar untuk memastikan tidak ada kecurangan yang dilakukan oleh pembeli maupun penjual.
Dalam menjalankan tugasnya, Al-Shifa ha rus siap-siap mendapatkan banyak pertanyaan dari pem beli ataupun penjual tentang transaksi di pasar. Umar me min ta kepada pemilik toko apabila mendapatkan keraguan tentang legalitas transaksi tertentu agar bertanya kepada Al- Shifa.
Tugas yang diberikan kepada Al-Shifa karena Umar percaya akan keilmuannya ten tang Islam. Pilihan Umar ter nyata sangat tepat. Al-Shifa mampu mengembang tugasnya dengan baik. Ia mampu mengontrol pasar sesuai dengan nilai-nilai Islam. Keberhasilan Al-Shifa mengontrol pasari di Madinah menjadi rujukan Umar untuk juga menunjuk se orang perempuan mengontrol pasar di Makkah. Umar me nunjuk Samra' bint Nuhaik se ba gai pengontrol pasar di Mak kah.
Penunjukan seorang perempuan sebagai pengontrol pasar di Madinah dan Makkah disebutkan bahwa pada awal Islam aktifitas pasar didominasi oleh perempuan baik pembeli mau pun pemilik toko. Itu sebabnya, Al-Shifa maupun Samra' tak menemukan kesulitan berarti dalam menjalankan tugasnya.
Muslimah Penulis Pertama
Sejarah peradaban Islam melahirkan tokoh-tokoh penting dalam kemajuan agama Islam. Baik mereka yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad SAW maupun setelahnya. K
etokohan mereka pun bermacam-macam sesuai keahliannya. Salah satunya Al-Shifa binti Abdullah, perempuan pertama yang memiliki kemampuan menulis di Makkah pada zaman Nabi Muhammad SAW. Itu sebabnya, perannya pada awal sejarah Islam di Makkah sangat besar dalam mengajar kan membaca dan menulis kepada kaum Muslimin, termasuk kepada Hafsah binti Umar.
Pada masa itu, tidak banyak perempuan yang memiliki kemampuan menulis dan membaca. Pasalnya, orang Arab mayoritas tidak berpendidikan. Apalagi, dalam masyarakat pra-Islam pendidikan adalah cita-cita yang umumnya tidak terpikirkan oleh perempuan.
Al-Shifa merupakan putri dari pasangan Abdullah bin Abd Shams dan Fatima bint Wahb. Ia menikah dengan Abu Hatma ibn Hudhaifa dan dikaruniai dua anak, yaitu Sulaiman dan Masruq. Sulaiman tumbuh se bagai anak yang religius.
Al-Shifa merupakan perempuan dengan reputasi baik p ada masa itu. Rasulullah sering berkonsultasi dengan Al-Shifa terkait bisnis. Reputasi Al-Shifa yang dikenal bijak membuat Khalifah Umar menunjuknya sebagai inspektur di Madinah. Keahlian lainnya yang dimiliki oleh Al-Shifa adalah kemampuannya dalam dunia intelijen. Ia dihormati dan disegani karena semangat belajarnya yang tinggi.
Selain itu, Al-Shifa juga memiliki keahlian dalam hal medis. Rasulullah memintanya mengajari Hafsah tentang ilmu pengobatan, khususnya mengatasi penyakit kulit. Saat itu, keahlian Al-Shifa dalam dunia medis masih jarang dimiliki oleh banyak orang. Sebab, kedokteran merupakan disiplin ilmu yang belum berkembang waktu itu.
Dalam sebuah artikel yang dimuat Arabnews, disebutkan bahwa keahlian Al-Shifa dalam pengobatan sudah dimilikinya sebelum masuk Islam. Setelah me meluk Islam, Al-Shifa berta nya kepada Rasulullah apakah dirinya masih diperbolehkan melanjutkan keahliannya da lam dunia medis. Rasulullah me minta agar Al-Shifa melanjutkannya, bahkan mendukung penuh. Sikap Rasulullah tersebut menunjukkan bahwa ia selalu mendorong dan memastikan bahwa praktik yang dilakukannya sejalan dengan ajaran Islam.
Al-Shifa termasuk orang yang ikut hijrah bersama nabi ke Madinah. Di Madinah ia memiliki rumah yang letaknya berada di antara masjid dan pasar dan nabi sering kali mengunjunginya. Al-Shifa banyak bertanya tentang agama kepa da nabi. Masyarakat Madinah terus berkembang pesat. Tran saksi jual beli di pasar juga te rus menunjukkan geliatnya. Ka rena itu, pasar sebagai sim bol pergerakan ekonomi mem buat sahabat Umar merasa per lu ada yang mengawasi.
Umar kemudian menunjuk Al-Shifa sebagai pengendali pa sar di Madinah. Al-Shifa di berikan tugas oleh Umar untuk memastikan praktik jual beli di pasar sesuai dan konsisten de ngan ajaran Islam. Dia diminta berkeliling pasar untuk memastikan tidak ada kecurangan yang dilakukan oleh pembeli maupun penjual.
Dalam menjalankan tugasnya, Al-Shifa ha rus siap-siap mendapatkan banyak pertanyaan dari pem beli ataupun penjual tentang transaksi di pasar. Umar me min ta kepada pemilik toko apabila mendapatkan keraguan tentang legalitas transaksi tertentu agar bertanya kepada Al- Shifa.
Tugas yang diberikan kepada Al-Shifa karena Umar percaya akan keilmuannya ten tang Islam. Pilihan Umar ter nyata sangat tepat. Al-Shifa mampu mengembang tugasnya dengan baik. Ia mampu mengontrol pasar sesuai dengan nilai-nilai Islam. Keberhasilan Al-Shifa mengontrol pasari di Madinah menjadi rujukan Umar untuk juga menunjuk se orang perempuan mengontrol pasar di Makkah. Umar me nunjuk Samra' bint Nuhaik se ba gai pengontrol pasar di Mak kah.
Penunjukan seorang perempuan sebagai pengontrol pasar di Madinah dan Makkah disebutkan bahwa pada awal Islam aktifitas pasar didominasi oleh perempuan baik pembeli mau pun pemilik toko. Itu sebabnya, Al-Shifa maupun Samra' tak menemukan kesulitan berarti dalam menjalankan tugasnya.
Abu Hurairah tak Gengsi Mengakui Kesalahan Fatwanya
Islam memberikan penghormatan terhadap ilmu dan ulama. Penghormatan yang nyaris tidak ditemukan sepanjang sejarah manusia. Tak lain, karena posisi strategis ulama dalam Islam. Islam menempatkan mereka sebagai pewaris para nabi.
Sehingga, pendapat yang keluar dari pemikiran ulama merupakan referensi hukum yang patut dijalankan. Bahkan, sebuah pendapat mengatakan, para ulama wajib ditaati sepeninggal Rasulullah. Kisah berikut ini, menceritakan tentang keluhuran akhlak Abu Hurairah RA, yang dengan rendah hati, berkenan mengakui kesalahannya dalam berfatwa.
Nama Abu Hurairah RA tentu tidaklah asing. Sahabat yang juga dikenal dengan nama Abd al-Rahman ibn Sakhr al-Azdi itu dikenal sebagai sosok yang alim dan menguasai agama. Namanya juga masuk dalam deretan sahabat pemberi fatwa. Penguasaan tokoh yang lahir pada 603 M ini terhadap ilmu agama dilatarbelakangi oleh kedekatannya dengan Rasulullah SAW.
Abu Hurairah, pernah menemani Nabi akhir zaman itu lebih dari tiga tahun. Kondisi ini memberikan keistimewaan berikutnya, yakni, ia berhasil mencatat predikat perawi hadis terbanyak. Tak kurang dari 5,375 hadis berhasil ia riwayatkan langsung dari Rasulullah.
Meski demikian, masih saja ada beberapa hal yang ternyata belum dapat dicerna baik oleh Abu Hurairah, meskipun akhirnya sahabat yang lahir di Baha, Yaman tersebut, dengan hati lapang dan keterbukaan, berkenan belajar atau berkonsultasi kepada Rasulullah. Peristiwa berikut ini menunjukkan sikap kearifan dan kedewasaan yang pantas dimiliki ulama, sebagaimana diteladankan oleh pria asal Bani Daws tersebut.
Suatu ketika, usai shalat Isya' berjamaah di belakang Rasulullah SAW, Abu Hurairah berjalan-jalan di tengah kegelapan malam. Tiba-tiba seorang perempuan bercadar mendekati Abu Hurairah dan mengadukan persoalan yang tengah menderanya. Si perempuan bertanya perihal nasibnya yang telah berbuat dosa besar. Apakah saya bisa bertaubat?, katanya kepada Abu Hurairah.
Abu Hurairah yang pernah ditunjuk sebagai Gubernur Madinah di awal masa Dinasti Umayyah tersebut, lantas mencoba mendengarkan keluhan si perempuan dengan baik. Abu Hurairah bertanya kepadanya, apa dosa yang telah diperbuatnya. Aku telah berzina, kemudian membunuh anakku dari hasil hubungan terlarang itu, jawab si perempuan dengan nada ketakutan dan malu.
Abu Hurairah kaget bukan kepalang. Ia tidak habis pikir. Mengapa perempuani itu tega melakukannya. Sedikit terbawa sentimen dan emosi, tokoh yang wafat di usia 78 tahun itu dengan cepat mengeluarkan pernyataan dan fatwa yang cukup keras.
Binasalah engkau, binasalah engkau. Demi Allah, Anda tidak akan diampuni, kata Abu Hurairah sembari bergumam, baru kali ini ia berfatwa tanpa berkonsultasi kepada Rasul terlebih dahulu.
Tak elak, fatwa yang dikeluarkan mertua dari Sa'id bin al-Musayyib itu mendapat reaksi yang tak kalah heboh dari si perempuan. Ia shock, berteriak, menangis menderu-deru, lantas pergi meninggalkan Abu Hurairah.
Esok hari, Abu Hurairah menghadap Nabi SAW dan menceritakan peristiwa yang berlangsung kemarin malam, sekaligus meminta pernyataan dari Rasulullah. Ternyata, justru jawaban yang disampaikan oleh Rasul bertolak belakang dengan pandangan Abu Hurairah.
Rasul bersabda, Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, demi Allah, engkau bisa celaka, engkau bisa celaka. Tidakkah engkau lupa akan ayat ini, Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).
Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah mahapengampun lagi mahapenyayang. (QS al-Furqan [25]: 68, 70).
Abu Hurairah segera meminta ampunan atas kekeliruannya berfatwa. Ia merasa bertanggung jawab telah membuat perempuan yang ia temui semalam berputus asa dan bersedih. Ia pun bergegas mencari dan melacak keberadaannya. Ia menelusuri sudut-sudut Madinah. Tetapi, usahanya tak membuahkan hasil. Ia bertanya kepada tiap orang.
Anak-anak menganggap sahabat yang dimakamkan di Kompleks Makam al-Baqi' itu aneh, mirip orang gila yang kebingungan. Ia menunggu hingga malam tiba. Akhirnya, di tempat yang sama, mereka berdua bertemu.
Abu Hurairah meminta maaf dan menyampaikan kabar gembira dari Rasul. Kegembiraan tepancar dari raut muka si perempuan. Ia bahagia. Sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita itu, ia menyedekahkan sebidang kebun agar dipergunakan untuk kepentingan kaum dhuafa.
Langganan:
Postingan (Atom)
