RUNNING TEXT
Rabu, 15 Maret 2017
PERKEMBANGAN, KEMAJUAN, DAN KEJATUHAN BANI ‘ABBAS
0leh
Dr. Irwandi Sihombing, S.Ag., S.PdI, MA
A. Pendahuluan
Jatuhnya Dinasti Umaiyah pada tahun 750 Masehi dan bangkitnya Dinasti Abbasiyah telah menarik perhatian banyak kalangan dan sejarawan Islam. Para sejarawan melihat bahwa peristiwa ini untuk dan menarik karena bukan saja pergantian Dinasti, tetapi lebih dari itu adalah pergantian struktur sosial dan isiologi.
Dinasti Abasiyah merupakan imperium Islam kedua, setelah Dinasti Umaiyyah.Keberhasilannya mengambil alih kekuasaan dianggap sebagai sebuah kemenangan, yang sudah lama diharapkan oleh Bani Hasyim setelah wafatnya Rasullullah SAW Bani Hasyim yang merasa berhak atas kekhalifahan, sebagai ahli- bait( Keluarga Rasullullah SAW).
Setelah berhasil merebut kekuasaan, orang-orang Abbasiyah mengklaim dirinya sebagai pengusung konsep sejati kekhalifahan, yaitu gagasan negara teokrasi, yang menggantikan pemerintahan sekuler Dinasti Umayyah. Sebagai ciri khas keagamaan dalam istana kerajaannya, dalam berbagai kesempatan seremonial, seperti ketika dinobatkan sebagai khalifah pada shalat jum’at.
Pemerintahan Abbasiyah berlanjutan dari tahun 132 H. Hingga tahun 656 H. Temponya ialah selama 524 tahun. Pada tahun 656 H, kaum Tatar melanggar dunia Islam, membunuh Khalifah abbasiyah serta kaum keluarganya dan mengumumkan berakhirnya pemerintahan Abbasiyah.
Tempo sebegitu lama yang dinikmati oleh golongan Abbasiyah ketika memegang tampuk pemerintahan, tidak berarti bahwa kekuasaan para khalifahnya sama sejajar.Sebaliknya kekuasaan tersebut adalah berbeda-beda yang menyebabkan para pengkaji membagikan tempo pemerintahan Abbasiyah itu kepada beberapa periode. Pandangan ahli-ahli sejarah tentang pembagian ini dan sebab-sebabnya mungkin berbeda.Tetapi di pihak kita, tempo pemerintahan Abbasiyah itu kita bagi kepada tiga periode yang masing-masing mempunyai cirri-ciri tersendiri berbeda dari yang lain.
B. Perkembangan Budaya dan Perluasan Wilayah
1. Perkembangan Kebudayaan dan Pemikiran Islam pada Masa Daulah Abbasiyah
Puncak perkembangan Kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi tidak berarti seluruhnya berawal dari kreatifitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya diawal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat, yaitu :
1. MAKTAB / KUTTAB DAN MASJID
Yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan, dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafasir, hadits, fiqih dan bahasa.
2. TINGKAT PENDALAMAN
Para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah menuntut ilmu kepadan seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Pengajarannya berlangsung di mesjid-mesjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan.
Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan universitas, karena disamping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi.
Perkembangan lembaga-lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Disamping itu kemajuan itu juga ditentukan oleh beberapa hal, yaitu :
1. Terjadinya assimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulumengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.
Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non Arab banyak yang masuk Islam.Asimilisi berlangsung secara efektif dan bernilai guna.Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia sangat kuat dibidang pemerintahan. Di samping itu bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu terutama filsafat.
2. Keberhasilan Dakwah Islam pada Abad ketiga Hijriah
Dengan keberhasilan dakwah Islam pada masa ini terjadilah perbauran adapt kebiasaan antara daerah-daerah perluasan denga Arab dan bahasa Arab menjadi bahasa percakapan bagi jutaan kaum muslimin. Bahkan banyak kaum muslimin non Arab yang menguasai bahasa Arab dengan benar dan mampu membuat sya’ir yang baik, menulis surat yang indah, menerjemah, mengarang buku fiqih dan ilmu bahasa.
3. Stabilitas Sosial Politik
Pada masa ini terjadi stabilitas politik yang mantap dengan menekan bibit pemberontakan dan memberikan kebebasan terhadap lapisan pekerja sehingga mempunyai dampak positif terhadap karya sastra. Kestabilan ini memberikan inspirasi kepada sastrawan untuk menghasilkan karya sastra. Kestabilan ini memberikan inspirasi kepada sastrawan untuk menghasilkan karya sastra yang bermutu. Syai’ir-sya’ir pada masa Abbasiyah pertama merupakan cerminan dari kehidupan sosial yang stabil.
4. Kemajuan Ekonomi
Kemajuan ekonomi pada masa ini terlihat pada kebebasan buruh dan petani dan ikut-sertanya mereka dalam produksi, disamping berkembangnya perdangan internasional dan meningkatnya standar keidupan masyarakat secara umum, serta melimpah-ruahnya harta yang dimiliki para khalifah, menteri-menteri dan pejabat-pejabat negara lainnya. Para Khalifah tidak segan-segan memberikan jasa yang besar kepada para penyair dan memberikan dorongan yang kuat terhadap para pemikir dan cendekiawan dan sewaktu-waktu istana khalifah itu berubah menjadi pasar seni.
5. Berpindahnya ibukota dari Damaskus ke Bagdad
Berpindah ibukota kekhalifahan dari Damaskus ke Bagdad juga ikut mempengaruhi perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam. Sebagaimana diketahui bahwa Bagdad terletak di daerah yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Persia dan berarti semakin jauh dari pengaruh Arab. Kota Baqdad sendiri telah lama mengenal ilmu pengetahuan dan Kebudayaan yang tinggi. Membaurnya bangsa-bangsa di Baqdad mempunyai pengaruh yang besar.
6. Gerakan Penerjemahan yang berlangsung dalam tiga Fase
Fase pertama, pada masa Khalifah Al-Mansur hingga Khalifah Harun Ar-Rasyid.Pada fase ini yang banyak diterjemahan adalah karya-karya dalam bidang Astromi dan Mantiq. Fase kedua berlangsung mulai dari Khalifah Al-Makmun hingga tahun 300 H. Buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas.
DINAMIKA KEAGAMAAN, SOSIAL POLITIK DAN INTLEKTUAL PERIODE DINASTI ABBASIYAH
0leh
Dr.Irwandi Sihombing, S.Ag., S.PdI, MA
I. Pendahuluan
Masa kenabian yang hanya kurang lebih 23 tahun lamanya, telah mewariskan kepemimpinan yang dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin.Setelah masa Khulafaurrasyidin berlalu, kepemimpinan Islam beralih kepada sistim kekhalifahan yang bercorak kepada kesukuan atau yang lebih dikenal dengan bani atau dinasti.Setelah wafat khalifah yang keempat yaitu Ali Ibn Abi Talib maka beralihlah kesistim kedinastian.Adapun dinasti yang pertama adalah dinasti Umayyah yang berkuasa cukup lama dan setelah runtuhnya kekuasaan Dinasti Umayyah, kekuasaan berpindah tangan kepada Bani Abbasiyah. Untuk pertama kalinya dinasti ini dipimpin oleh para Khalifah yang cerdas dan kuat, seperti al-Mansur, al-Rasyid dan al-Ma’mun, sehingga dinasti ini mampu bertahan selama berabad-abad.1
Dinasti Abbasiyah mewarisi wilayah kekuasaan dari Bani Umayah yang sangat luas. Perluasan wilayah pada masa Umayyah ini, menjadi salah satu embrio perkembangan peradaban Islam pada masa dinasti ini. Dinasti Abbasiyah telah melewati fase-fase sejarah dan mengukir nama dalam lembaran sejarah sebagai dinasti yang telah membawa dunia Islam ke era keemasan.2 Pada era ini kernajuan di bidang ekonomi, politik, sosial, militer dan ilmu pengetahuan berhasil diraih. Islam benar-benar berada pada puncak keemasan, kemuliaan, kekayaan, kemajuan, kekuasaan serta peradaban yang sangat tinggi.3 Kemajuan Peradaban Abbasiyah sebagiannya disebabkan oleh stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi kerajaan ini, pusat kekuasaan Abbasiyah berada di Baghdad.4
Diawali dengan jatuhnya Bani Umayyah dan dilanjutkan dengan Bani Abbasiyah, maka dalam makalah yang sederhana ini penulis akan membahas tentang “DINAMIKA KEAGAMAAN, SOSIAL POLITIK DAN INTLEKTUAL PERIODE DINASTI ABBASIYAH “.
B. PENDIRIAN DINASTI ABBASIYAH
Daulah Abbasiyah adalah daulat (Negara) yang melanjutkan kekuasaan Daulah Umayyah. Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas (Bani Abbas), paman Nabi Muhammad saw. Pendiri dinasti ini adalah Abu Abbas as-Saffah.5 Sebelum Abbas memeluk agama Islam, pernah membantu Nabi Muhammad saw dalam peristiwa Baitul Aqabah kedua, kemudian ia memeluk Islam menjelang Fathul Makkah serta menampakkan kegigihannya membela Islam dalam peperangan Hunain. Bani Abbas semula mendukung pengembalian khilafah kepada keturunan Ali. Sebagaimana diketahui khalifah pertama dari Daulah Bani Abbsyiah adalah Abdullah Abul Abbas as-Saffah, memerintah tahun 132 H/750 M, tetapi usaha dan klaim Bani Abbsyiah untuk menduduki jabatan khalifah sebenarnya jauh sebelum masa hidup as-Saffah. Sebagian sejarawan mengatakan klaim itu sudah dimulai sejak masa hidup kakeknya bernama Ali bin Abdullah bin al-Abbas bin Abdul Muthalib.6
Sejarah peralihan Kekuasaan dari Daulah Umayyah kepada Daulah Abbasiyah bermula ketika Bani Hasyim menuntut kepemimpinan lslam berada di tangan mereka karena mereka adalah keluarga Nabi SAW yang terdekat, tuntutan itu sebenarnya sudah ada sejak lama, tetapi baru menjelma menjadi gerakan ketika Bani Umayyah naik takhta dengan mengalahkan Ali bin Abi Thalib dan bersikap keras terhadap Bani Hasyim.7
Propaganda Abbasiyah dimulai ketika Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) menjadi khalifah Daulah Umayyah. Umar memimpin dengan adil, ketentraman dan stabilitas negara memberi kesempatan kepada gerakan Abbasiyah untuk menyusun dan merencanakan gerakannya yang berpusat di al-Humaymah. Pemimpinnya waktu itu adalah Ali bin Abdullah bin Abbas, seorang zahid, dia kemudian digantikan oleh anaknya Muhammad yang memperluas gerakan. Dia menetapkan tiga kota sebagai pusat gerakan yaitu: al-Humaymah sebagai pusat perencanaan dan organisasi, Kufah sebagai kota penghubung, dan Khurasan sebagai pusat gerakan praktis.8 Masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah ini dapat dibagi atas beberapa periode berdasarkan ciri, pola perubahan struktur pemerintahan dan struktur sosial politik rnaupun tahap perkembangan peradaban yang telah dicapai, secara umum kekuasaan Dinasti Abbasiyah dapat dibagi atas 4 periode.9
a. Periode Awal (750 – 847 M)
Masa ini diawali sejak Abul Abbas As-safah (132-136 H/750-759 M) diangkat menjadi Khalifah pertama dan berlangsung selarna satu abad hingga meninggalnya khalifah Al-Wasiq (232 H/ 847 M ), masa ini dianggap sebagai zaman keemasan Abbasyiah antara lain karena keberhasilannya dalam memperluas wilayah kekuasaan. Wilayah kekuasaan periode ini membentang dari lautan atlantik hingga sungai Indus, dan dari Laut Kaspia hingga ke Sungai Nil.
b. Periode Lanjutan (847 – 945 M)
Periode ini djawali dengan meninggalnya khalifah al-Wasiq dan berakhir ketika keluarga Buwaihi bangkit memerintah (847 – 932 M). Sepeninggal al-Wasiq, al-Mutawakkil (847 – 861 M) naik menjadi khalifah. Masa ini ditandai dengan bangkitnya pengaruh Turki. Orang-orang Turki memegang jabatan penting di pemerintahan. Mereka sernula dibawa oleh Khalifah al-Mu'tasim dan bermukim di Baghdad. Penduduk Ibu Kota umumnya tidak menyukai mereka sehingga al-Mu tasim memindahkan mereka ke sebuah kota yang sengaja dibangun buat mereka, yaitu kota Samarra, sebuah kota yang terletak disebelah utara Baghdad. Periode ini ditandai dengan persaingan antara kekuatan Militer di Baghdad dan militer di Samarra, bahkan antar kelompok dimasing-masing kota.
c. Peniode Buwaihi (945 -1055 M)
Masa ini dimulai dengan bangkitnya Bani Buwaihi hingga rnunculnya Bani Seljuk. Kekuasaan buwaihi menyebar sampai ke Irak dan Persia Barat sementara itu, Persia Timur, Transoksania, dan Afganistan yang semula dibawah kekuasaan Dinasti Samaniyah, beralih kepada Dinasti Gaznawi. Kemudian sejak 869 M, Dinasti Fatimiah berdiri di Mesir. Untuk beberapa lama dinasti ini juga mengontrol sebagian besar wilayah Suriah dan seluruh wilayah di sebelah barat Mesir dan bahkan sebagian mereka mendirikan dinasti yang merdeka. Meskipun begitu Dinasti Buwaihi tetap cukup kuat dan berkuasa karena mereka masih mengusai Baghdad yang merupakan pusat Dunia Islam dan lokasi kediaman Khalifah Abbasiyah.
d. Periode Seljuk (1055-1258 M)
Masa ini diawali ketika Suku Seljuk mengambil alih pemerintahan dan mengondol kekhalifahan Abbasyiah pada tahun 447 H/ 1055 M. masa Seljuk berakhir pada tahun 656 H/1258M, ketika balatentara Mongol menyerang serta menaklukkan Baghdad dan hampir seluruh Dunia Islam terutama bagian timur. Suku Seljuk tidak selamanya mendominasi kekuasaan, karena khalifah Abbasiyah belakangan berhasil membebaskan diri dari Seljuk.
PENGUASA ABBASIYAH DI IRAK10
No Nama Khalifah Gelar Lama Pemerintahan Dibawah Dominasi
1 Abul Abbas Abdullah bin Muhammad as-Saffah 132-137H/750-754M Turki
2 Abu Ja’far Abdullah bin Muhammad al-Mansur 137-159H/754-775M Turki
3 Muhammad bin Abdullah bin Muhammad al-Mahdi 159-169H/775-785M Turki
4 Musa bin Muhammad bin Abdullah al-Hadi 169-170H/785-786M Turki
5 Harun bin Muhammad bin Abdullah al-Rasyid 170-194H/786-809M Turki
6 Muhammad bin Harun bin Muhammad al-Amin 194-198H/809-813M Turki
7 Abdullah bin Harun bin Muhammad al-Ma’mun 198-218H/813-833M Turki
8 Muhammad bin Harun bin Muhammad al-Mu’tasim 218-227H/883-842M Turki
9 Harun bin Muhammad bin Harun al-Wasiq 227-232H/842-847M Turki
10 Ja’far bin Muhammad bin Harun al-Mutawakkil 232-247H/847-861M Turki
11 Muhammad bin Ja’far al-Mutawakkil al-Muntasir 247-248H/861-862M Turki
12 Ahmad bin Muhammad al-Mu’tashim al-Musta’in 248-252H/862-866M Turki
13 Muhammad bin Ja’far al-Mutawakkil al-Mu’taz 252-256H/866-869M Turki
14 Muhammad bin Harun al-Watsiq al-Muhtadi 256-257H/869-870M Turki
15 Ahmad bin Ja’far al-Mutawakkil al-Mu’tamid 257-279H/870-892M Turki
16 Ahmad bin Talhab bin Ja’far al-Mu’tadid 279-290H/892-902M Turki
17 Alin bin Ahmad al-Mu’tadhid al-Muktafi 290-296H/902-908M Turki
18 Ja’far bin Ahmad al-Mu’tadhid al-Muqtadir 296-320H/908-932M Turki
19 Muhammad bin Ahmad al-Mu’tadhid al-Qohir 320-323H/932-934M Turki
20 Muhammad bin Ja’far al-Mu’tadir ar-Radi 323-329H/934-940M Turki
21 Ibrahim bin Ja’far al-Mu’tadir al-Muttaqi 329-333H/940-944M Turki
22 Abdullah bin Ali al-Mu’tafi al-Muktakfi 333-335H/944-946M Turki
23 Al-Fadhi bin Ja’far al-Mu’tadir al-Muti 335-364H/946-974M Buayhi
24 Abdul Karim ibnul Fadhi al-Muthi al-Ta’i 364-381H/974-991M Buayhi
25 Ahmad bin Ishaq Ibnul Muqtadir al-Qadir 381-423H/991-1031M Buayhi
26 Abdullah bin Ahmad al-Qadir al-Qa’im 423-468H/1031-1075M Buayhi
27 Abdullah bin Muhammad ibnul Qaim al-Muktadi 468-487H/1075-1094M Saljuk
28 Ahmad bin Abdullah al-Mu’tadi al-Mustazhir 487-512H/1094-1118M Saljuk
29 Al-Fadhi bin Ahmad al-Mustazhir al-Mustarshid 512-530 H/1118-1135M Saljuk
30 Manshur ibnul Fadhi al-Mustarsyid ar-Rashid 530-531H/1135-1136M Saljuk
31 Muhammad bin Ahmad al-Mustazhir al-Muqtafi 531-555H/1136-1160M Saljuk
32 Yusuf bin Ahmad al-Mu’tafi al-Mustanjid 555-566H/1160-1170M Saljuk
33 Al-Hasan bin Yusuf al-Mustanjid al-Mustadi 566-576H/1170-1180M Saljuk
34 Ahmad Ibnul Hasan al-Mustadhi an-Nasir 576-622H/1180-1225M Saljuk
35 Muhammad bin Ahmad an-Nashir az-Zahir 622-623H/1225-1226M Saljuk
36 Manshur bin Muhammad az-Zhahir al-Mustansir 623-640H/1226-1242M Saljuk
37 Abdullah bin Manshur al-Mustanshir al-Muta’sim 640-656H/1242-1258M Saljuk
III. DINAMIKA KEAGAMAAN
Dari persfektif keagamaan, dinasti Abbasiyah mencapai masa kemajuan dan keemasan gerakan penerjemahan di tandai dengan berkembangnya ilmu-ilmu keIslaman.Di bidang ilmu agama, era Abbasiyah mencatat di mulainya sistematisasi beberapa cabang keilmuan seperti tafsir, Hadist dan Fiqh.Khusus sejak tahun 143 H, para ulama mulai menyusun buku-buku dalam bentuknya yang sistematis baik di bidang Tafsir, Hadist dan Fiqh.
Diantara Ulama tersebut yang terkenal adalah Ibn Jurayj (Wafat 150 H)yang menulis kumpulan hadistnya di Mekah, Malik ibn Anas (Wafat 171 H) yang menulis Al-Muwattha’nya di Madinah, Al-Awza’i di wilayah Syam, ibn Abi ‘Urubah dan Hammad ibn Salamah di Basrah, Ma’mar di Yaman, Sufyan al-Tsauri di Kufah, Muhammad ibn Ishaq (wafat 151 H) yang menulis buku sejarah (Al-Maqhazi), Al-Layts ibn Sa’ad (wafat 175 H) serta Abu Hanifah.
Pada masa Dinasti Abbasiyah ini Tafsir mengalami kemajuan dan ilmu tafsir ini menjadi ilmu mandiri yang terpisah dari ilmu Hadist.Buku Tafsir lengkap dari al-Fatihah sampai an-Nas juga mulai di susun dengan rapi.Menurut catatan Ibn al-Nadim yang pertama kali melakukan penyusunan tafsir lengkap adalah Yahya bin al-Daylami atau yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Farra.Menurut catatan Ibn al-Nadim bahwa Abdul al-Razzaq ibn Hammam al-San’ani (wafat 211 H) yang hidup sezaman Al-Farra juga telah menyusun sebuah kitab tafsir yang lengkap.
Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Penerjemahan buku-buku asing dan produksi buku-buku dari segala bidang ilmu (naqli dan aqli) adalah bentuk perkembangan peradaban. Pada masa dinasti ini.13 Memuncaknya peradapan Islam juga terlihat dari lahirnya ilmuwan yang mampu menciptakan ilmu dengan kemampuan diri sendiri bahkan sering membantah dan membatalkan teori ilmu yunani.14
Ilmu Fiqh juga mengalami kemajuan yang pesat, pada zaman ini sejarah juga mencatat di mana para tokoh yang di sebut sebagai empat imam mazhab fiqh hidup pada era tersebut yaitu Abu Hanifah (wafat 150 H), Malik bin Anas (wafat 179 H), Al-Syafi’I (wafat 204 H) dan Ahmad ibn Hambal (wafat 241 H).
Selanjutnya tidak jauh berbeda dengan perkembangan yang dialami oleh ilmu Tafsir dan ilmu Fiqh, ilmu Hadist juga mengalami masa penting khususnya terkait dengan sejarah penulisan hadist-hadist Nabi yang memunculkan tokoh-tokoh yang telah di sebutkan diatas seperti Ibn Jurayj, Malik Ibn Anas, juga al-rabi ibn Sabih (wafat 160 H) dan Ibn al-Mubaraq (wafat 181 H).Pada awal abad ketiga, muncul kecenderungan baru penulisan hadist Nabi dalam bentuk musnad.Diantara tokoh yang menulis musnad itu adalah Ahmad Ibn Hambal, ‘Ubaidullah ibn Musa al-Absy al-Kufi, Musaddad ibn Musarhad al-Basri, Asad ibn Musa al-Amawi dan NU’aym ibn Hammad al-Khuzai.
Perkembangan penulisan hadist berikutnya pada masa dinasti Abbasiyah ini di mulai pada pertengahan abad ketiga.Muncul ahli-ahli hadist yang bias dikatakan sebagai generasi terbaik sejarah penulisan hadist, yakni munculnya kecenderungan penulisan hadist yang di dahului oleh tahapan penelitian dan pemisahan hadist-Hadist sahih dari yang dhoif (lemah) sebagaimana yang telah dilakukan oleh Al-Bukhori (wafat 256 H), Imam Muslim (wafat 261 H), Ibn Majah (wafat 273 H), Abu Daud (wafat 275 H), Al-turmuzi (wafat 279 H) dan An-Nasa’I (wafat 303 H).
Kesimpulannya adalah bahwa semua aspek mengalami kemajuan pada masa awal dari dinasti Abbasiyah ini, baik dibidang politik, ekonomi, maupun peradaban. Tentunya kemajuan-kemajuan ini dilatar belakangi oleh beberapa faktor. Disini penulis hanya mencantumkan taktor-faktor pendukung kemajuan yang penulis rasa paling menonjol dan yang mewakili aspek-aspek tersebut.
IV.SOSIAL POLITIK
Kemajuan yang diraih oleh Dinasti Abbasiyah berangkat dari penyebab jatuhnya dinasti Ummayah pelajaran berharga ini akhirnya memberi inspirasi untuk membuat beberapa kebijakan-kebijakan baru (tentunya kebijakan-kebijakan tersebut berbeda dengan kebijakan-kebijakan pada masa Dinasti Umayyah) oleh Dinasti Abbasiyah dalam rangka menjalankan kepemimpinannya yaitu:
1. Adanya suatu strategi yang berilian yaitu dengan menerapkan kembali prinsip-prinsip kesataraan, keadilan dan persaudaraan (musawah, adalah dan ukhuwah)
Strategi ini dianggap penting mengingat masyarakat yang sangat bervariasi latar belakang suku dan rasnya, maka dengan prinsip ini berubahlah pola pikir masyarakat, dari pola pikir yang simbolik menjadi pola pikir yang berwawasan ukhuwah Islamiah. Makna ukhwah Islamiyah pada masa ini juga mengalami perluasan makna yaitu: persaudaraan tidak hanya kepada masyarakat muslim semata tetapi pada masyarakat non muslim, hingga pada prinsip ini terciptalah egaliterian.15 dalam masyarakat. Prinsip egaliter ini merupakan salah satu strategi jitu bagi Abbasiyah untuk menjaga kelanggengan dinastinya selama kurun waktu yang cukup lama.16 Dengan kata lain tidak ada lagi stratifikasi sosial yang mencolok seperti yang terjadi pada masa Dinasti Ummayah dulu, yakni tiada perbedaan lagi antar mawalli17 dengan orang arab asli.
2 Pembentukan ketentaraan professional
Sebelumnya belum ada tentara khusus yang professional seperti ini.18 Abbasiyah rmelepaskan privilise19 kemiliteran bangsa arab dan menumbuhkan sebuah kelcuatan militer baru yang direkrut dan diorganisasikan sedemikian rupa sehingga mereka harus loyal kepada dinasti semata dan tidak pada kepentingan kesukuan atau kasta tertentu serta menggaji mereka.20 Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah berhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit professional, bukan hanya cakap dalam peperangan akan tetapi mampu bagaimana mempertahankan dan mengamankan negara sehingga stabilitas negara dapat terjaga. Dengan kondisi pemerintahan yang mantap konsentrasi tidak lagi hanya pada bidang politik semata tetapi juga dapat diarahkan pada pengembangan ilmu pengetahuan dan bidang lainnya.21
3. Adanya perbaikan pada sektor-sektor perekonomian pada masa khalifah al-Mahdi)
Upaya yang dilakukan adalah dengan mempermudah transportasi jalur perdagangan yaitu dengan dibangunnya stasiun kafilah dagang dan tersedianya air yang cukup pada tempat tersebut. Adanya kuda-kuda yang tangguh untuk mempermudah dan mempercepat layanan pos. Ditingkatkannya armada dagang dari teluk Persia dan Teluk Aden ke pesisir India dan wilayah Asia Tenggara, sehingga perdagangan eropa sangat tergantung sekali pada pedagang-pedagang muslim yang berkedudukan di pesisir Laventine dan pesisir Afrika Utara. Perbaikan tidak hanya pada penyediaan fasilitas fisik saja namun fasilitas keamanan dan kenyamanan juga, sehingga mendukung kelancaran lalu lintas pedagang dan tentunya menambah income yang sangat besar bagi perbendaharaan negara (bait a-mal).22 Dengan banyaknya uang kas negara tentunya dapat meningkatkan bidang lainnya seperti perindustrian pertanian dan lain sebagainya.
4. Adanya Asimilasi23 dalam Dinasti Abbasiyah
Berpartisipasinya unsur-unsur non Arab (terutama bangsa Persia)24 pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Saat itu bangsa-bangsa non arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi berlangsung secara efektif dan berdaya guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam pertimbangan ilmu pengetahuan alam dalam Islam. Kontak antara Persia dengan Abbasiyah dimulai ketika Ibu kota negara dipindahkan Dari Damaskus ke Baghdad. Perpindahan ibu kota ini memberikan pengaruh yang besar terhadap masuknya budaya-budaya Persia ke dalam dunia Islam saat itu. Pengaruh Persia ini sangat kuat dibidang pemerintahan,25 seperti sakralisasi khalifah Abbasiyah yang mengklaim bahwa mereka adalah bayangan Allah di muka bumi ini (innama ana sultan Allah fi ardhihi) adalah mencontoh Dari budaya Persia.26 Disamping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam kedokteran, ilmu matematika dan astronomi Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.27 Madrasah-madrasah perpustakaan-perpustakaan mulai didirikan sebagai fasilitas dari pengembangan peradaban ini, seperti universitas Nizamiyyah di Baghdad, Nisabur, Balkh, Heart, dan lain-lain.
Dari faktor-faktor pendukung kemajuan Dinasti Abbasiyah maka hasil yang di peroleh adalah Islam berada pada puncak peradaban dunia. Peradaban Islam adalah peradaban yang paling maju sehingga banyak para mahasiswa dari Eropa dan belahan dunia lainnya yang datang untuk belajar diberbagai perguruan tinggi yang didirikan umat Islam.29 Baghdad sebagai ibukota negara menjadi kota yang tiada bandingannya diseluruh dunia.30 Baghdad menjadi pusat metropolitan dan kosmopolitan. Sebagai pusat kegiatan ekonomi Baghdad tumbuh menjadi kota besar bagi perdagangan Internasional dan sangat produktif dengan sejumlah industri yang menghasilkan tekstil, sutra, kertas dan berbagai hasil industri lainnya.31
V.INTLEKTUAL
Para Intlektual pada masa dinasti Abbasiyah sangat bergairah untuk menuntut ilmu pengetahuan dari berbagai sumber.Mereka mengawali penjelajahan intlektualnya dengan menterjemahkan sejumlah besar karya-karya klasik Persia, Yunani, India, Sanksekerta dan Syiria dalam berbagai disiplin ilmu.
Kemajuan yang dicapai oleh umat Islam di era dinasti Abbasiyah tidak hanya sebatas pada ilmu-ilmu agama saja yang biasa diistilahkan dengan ulum naqhliyah melainkan disertai dengan ilmu-ilmu sains dan tekhnologi (ulum aqhliyah).Bahkan jika dicermati, kemajuan sains dan tekhnologi di dunia Islam mendahului perkembangan ilmu filsafat yang juga berkembang pesat.Hal ini bias jadi merupakan buah dari kecenderungan bangsa Arab saat itu lebih mengutamakan penerjemahan buku-buku sains yang memiliki implikasi kemamfaatan secara langsung bagi kehidupan mereka (dzat al-atsar al maddi fi hayatihim) dibanding buku-buku oleh fikir (filsafat).
Kemajuan para intlektual Islam pada masa dinsti Abbasiyah banyak memberikan sumbangan yang besar dan sangat berharga bagi kehidupan dunia Islam pada khususnya.Sumbangan yang besar bagi peradaban manusia modern dan sejarah ilmu pengetahuan masa kini terutama dalam bidang matematika misalnya Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi (194-266 M) sang pencetus ilmu algebra, algoritma salah satu cabang matematika.32
Astronomi juga merupakan ilmu yang mendapat perhatian besar dari kaum muslim era Abbasiyah dan didukung langsung oleh khalifah Al- Mansur yang juga sering disebut sebagai seorang astronom. Penelitian di bidang Astronomi oleh kaum muslimin dimulai pada era Al- Mansur ketika Muhammad ibn Ibrahim al- Farazi menerjemahkan buku “ Siddhanta” ( yang berarti pengetahuan melaliu matahari) dari Bahasa Sanskerta ke bahasa Arab.
Pada era Harun Al- Rasyid dan Al- Ma’mun sejumlah teori- teori astronomi kuno dari Yunani direvisi dan dikembangkan lebih lanjut. Tokoh astrnom muslim yang terkenal pada era Abbasiyah antara lain Al- Khawarizmi, Ibn Jabir Al- Battani (w.929), Abu Rayhan al- Biruni (w. 1048) serta Nasir al- Din al- tusi (w. 1274).
Sedangkan Ilmu Fisika telah dikembangkan oleh Ibn Al- Haytsam atauyang dikenal di Barat dengan sebutan Alhazen. Beliau pula yang mengembangkan teori- teori awal metodologi sains ilmiyah melalui eksperimen (uji coba). Untuk itu beliau diberi gelar sebagai the real founder of physics. Ibn al- Haytsam juga dikenal sebagai bapak ilmu optic, serta penemu teori tentang fenomena pelangi dan gerhana.
Dibidang Ilmu Kimia era Abbasiyah mengenal nama- nama semisal Jabir ibn Hayyan ( atau Geber di Barat) yang menjadi pioner ilmu kimia modern. Selain itu Abu Bakar Zakariya al- Razi yang pertama kali mampu menjelaskan pembuatan asam garam ( sulphuric acid) dan alcohol. Dari para pakar kimia muslim inilah sejumlah ilmuwan Barat seperti Roger Bacon yang memperkenalkan metode empiris ke Eropa dan Isaac Newton banyak belajar.
Dalam bidang kedokteran muncul tokoh- tokoh seperti Hunain ibnu Ishaq (804-874 M) terkenal sebagai dokter ahli di bidang penyakit mata dan penerjemah buku-buku pengetahuan dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab, Ibnu Sina (980-1036 M) karyanya yang terkenal al-Qonun fi at Tibb dan dijadikan buku-bukunya sebagai pedoman kedokteran bagi universitas di Eropa dan Negara-negara Islam,al- Kindi yang pertama kali mendemonstrasikan penggunaan ilmu hitung dan matematika dalam dunia medis dan farmakologi. Atau juga Al- Razi (809-873 M) yang menemukan penyakit cacar ( small pox) dan lain- lain. Disebut pula, sebagai bukti lain yang menggambaran kemajuan ilmu kedokteran era Abbasiyah, bahwa pada zaman Khalifah Al- Muqtadir Billah terdapat sekitar 860 orang yang berprofesi sebagai dokter.
Disamping kemajuan beberapa disiplin ilmu sains sebagaimana yang telah dipaparkan diatas umat Islam era Abbasiyah juga mengalami kemajuan ilmu dibidang ilmu lainnya seperti biologi, geografi, arsitektur dan lainnya yang tidak dapat dijelaskan seluruhnya dalam makalah ini.
Zaman keemasan Dinasti Abbasiyah juga mencatat penemuan- penemuan dan inovasi penting yang sangat berarti bagi manusia. Salah satu di antaranya adalah pengembangan teknologi pembuatan kertas. Kertas yang pertama kali ditemukan dan digunakan dengan sangat terbatas oleh bangsa China berhasil dikembangkan oleh umat muslim dinasti Abbasiyah, setelah teknologi pembuatan dipelajari melalui tawanan perang dari Cina yang berhasil ditangkap setelah meletus Perang Talas. Setelah itu kaum muslim berhasil mengembangkan teknologi pembuatan kertas tersebut dan mendirikan pabrik kertas di Samarkand dan Baghdad. Hingga pada tahun 900 M di Baghdad terdapat ratusan percetakan yang mempekerjakan para tukang tulis dan penjilid untuk membuat buku. Perpustakaan- perpustakaan umum saat itu mulai bermunculan, termasuk perpustakaan peminjaman buku pertama sepanjang sejarah. Dari Baghdad teknologi pembuatan kertas kemudian menyebar hingga Fez dan akhirnya masuk ke Eropa melalui Andalusia pada abad 13 M.
Meski kegiatan penerjemahan sudah dimulai sejak masa Daulah Umayyah, upaya besar-besaran untuk menerjemahkan manuskrip-manuskrip berbahasa asing terutama Bahasa Yunani dan Persia ke dalam Bahasa Arab mengalami masa keemasan pada masa Daulah Abbasiyah. Para ilmuan di utus ke daerah Bizantium untuk mencari naskah-naskah Yunani dalarn berbagai bidang ilmu terutarna filsafat dan kedokteran. Sedangkan perburuan manuskrip di daerah timur seperti Persia adalah terutama dalam bidang tata negara dan sastra.32
Pada masa ini matematika dan astronomi juga berkembang. Karya Claudius Ptolemaeus (ahli astronomi sekitar 100-178). Megale Syntaxis, diterjemahkan atas perintah khalifah al-Ma'mun oleh al-Hajaj bin Yusuf, yang sebelumnya juga menghadiahkan terjemahan kitab Elements karya Euclides (ahli matematika sekitar 300 SM) kepada khalifah Harun ar-Rasyid. Pengetahuan umat Islam dalam bidang ini juga diperkaya dengan warisan ilmu dari India.34
Baitul Hikmah merupakan perpustakaan yang juga berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Institusi ini merupakan kelanjutan dari institusi serupa di masa Imperium Sasania Persia yang bernama Jundishapur Academy.35 Namun, berbeda dari institusi pada rnasa Sasania yang hanya menyimpan puisi-puisi dan cerita-cerita untuk raja, pada masa Abbaiyah, institusi ini diperluas penggunaanya. Pada masa Harun ar-Rasyid, institutisi ini bernama Khizanah al-Hikmah (Hazanah Kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. Sejak 815 M, al-Ma'mun mengembangkan lembaga ini dan diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah. Pada masa ini, Baitul al-Hikmah dipergunakan secara lebih maju yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantium dan bahkan Etiopia dan India.
VIL PENUTUP
Dari keseluruhan isi materi makalah yang diatas, maka penulis dapat menulis beberapa kesimpulan yaitu :
1. Masa kemajuan dinasti Abbasiyah diraih mulai periode pertama dari masa kekhalifahannya Abdul Abbas Abdullah bin Muhammad (132-137 H/750-754 M) sampai dengan khalifah yang terakhir yaitu Abdullah bin Manshur al-Mustanshir (640-656 H/1242-1258 M) berhasil mengantarkan kemajuan peradaban mencapai puncak keemasannya dengan berbagai macam aspek baik di bidang politik, sosial, agama maupun keintlektualan sains dan tekhnologi.
2. Politik yang stabil, ekonomi yang makmur serta peradaban yang tinggi berhasil diwujudkan. Islam menjadi pusat peradaban dunia dan menjadi tolak ukur kemajuan bagi pemerintahan dunia saat itu.
3. Kemajuan yang berhasil diraih ini tidak berlangsung lama. Cikal bakal kemunduran dimulai terlihat terutama dalam bidang politik yang akhirnya berdampak pada aspek ekonomi. Namun tidak demikian halnya yang terjadi dengan aspek peradaban. Peradaban Islam terus mengalami kejayaan meski disaat dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran yang sangat drastic.
4. Dinasti Abbasiyah tidak lagi dipimpin oleh orang-orang yang kuat dan cerdas. Kemajuan yang mereka raih cenderung membuat mereka terbuai dalam sifat-sifat yang buruk. Akhirnya meski mereka tetap menjadi khalifah akan tetapi roda pemerintahan tidak berada di tangan mereka. Dengan kata lain mereka dikendalikan oleh golongan-golongan yang sedang berkuasa pada saat ini, mereka tidak lebih seperti wayang atau boneka yang dikendalikan oleh Wayangnya.
5. Akibat dari sering terjadi pergolakan di daerah-daerah yang mengakibatkan memicu daerah-daerah lain yang dipimpin oleh pengusa yang kuat untuk memerdekakan diri atau dikenal dengan masa disintegrasi. Wilayah kekuasaan dinasti ini pun semakin sempit. Bahkan kekuasaan dinasti ini hanya ada di Baghdad saja.
DAFTAR BACAAN
Ali K. Sejarah Peradaban lslam (Tarikh Pra Modern. Terj. Ghufron A Mas'adi. Cet. 2. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997.
Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam, Media Eka Sarana, Jakarta, 2003
Brockelmann, Carl. History of The Islamic Poeples. London: Rout Ladge and Hagen Paul, 1982.
Hasan, Ibrahim. Tarikh al-lslami al-Siyasi wa al-Dini wa al-Tsiqafi wa al-Ijtima'i. juz 2. Beirut: Daar al-Jiil, 1991.
Hasjmy, A. Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1993.
Hitti, Philip K. History of The Arabs; Rujukan Induk dan Paling Otoritatif Tentang Sejarah Peradaban Islam, Terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Cet.1. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2005.
Islam. Dewan Redaksi Ensiklopedi. Ensiklopedi Islam, Jilid 1. Cet. 4. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997.
Kartono, Kartini. Kamus Lengkap Psikologi, Cet 3, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.
Kebudayaan, Departemen Pendidikan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III. Cet.1. Jakarta: Balai Pustaka, 2001.
Lapidus, Ira M. Sejarah Sosial Umat Islam, Terj. Ghufron A. Mas'adi. Cet. 2. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.
Mahmudunnasir, Syed. Islam Its Concept and Hitorys, Terj. Adang Affandi. Cet. 3. Bandung. Remaja Rosdakarya, 1999.
Nakosteen, Mehdi. Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barator; Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, Terj. Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah. Cet. 1. Surabaya: Risalah Gusti, 1995.
N.Abbas Wahid, dkk, Khasanah Sejarah Kebudayaan Islam, PT.Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2008.
Qardhawi, Yusuf, Meluruskan Sejarah Umat Islam, Terj. Cecep Taufiqurrahman. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005. ed. 1.
Shiddiqi, Nouruzzaman. Tamaddun Muslim, Cet. 1. Jakarta: Bulan Bintag 1986.
Styzewska, BojenaGajane. Tarikh al-Daulat al-lslamiyah,Beirut: Maktab al-Tijari,tt.
Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik Perkembangan llmu Pengetahuan Islam, Cet. I. Bogor: Kencana, 2003.
Syalabi, A. Sejarah dan Kebudayaan Islam 3. terj. Muhammad Labib Ahmad. Cet. 9. Jakarta: al-Husna Zikra, 1997.
Al-Wakil, Muhammad Sayyid. Wajah Dunia Islam, Terj. Fdhli Bachri. Cet. 1. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998.
Watt, W. Montgomery. Kejayaan Islam: Kajian Kritis dan Tokoh Orientalis, Terj. Hartotno Hadikusumo. Cet. 1. Yogjakarta: Tiara Wacana, 1990.
www.pesantrenonline.com.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam Cet.3. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.
Zaidan, Jurji. Historyr of Islamic Civilization, New Delhi: Khitab Bhavan, 1978.
Al-Zuhaili, Wahbah. Al-Qur'an dan Paradigma Peradaban, Yogjakarta: Dinamika, 1996.
IDENTIFIKASI PERILAKU DAN KARAKTERISTIK AWAL
0leh
Dr. Irwandi Sihombing, S.Ag., S.PdI, MA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Selama proses belajar-mengajar berlangsung, terjadi interaksi antara pengajar dan siswa. Setiap siswa mendapat dan menghadapi tugas belajar dan pengajar harus mendampingi siswa dalam belajar. Keberhasilan proses belajar-mengajar itu untuk sebagian dipengaruhi oleh keadaan awal yang dimiliki siswa, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Kenyataan ini berakibat bagi pengajar, sejauh mana ia harus mengikutsertakan keadaan awal atau ciri khas itu sebagai salah satu titik tolak bagi perencanaan dan pengelolaan proses belajar mengajar.
Bagi setiap pengajar, mengetahui perilaku dan karakteristik awal siswa diperlukan dalam menyusun tujuan instruksional. Menurut Deterline (1965), teknologi instruksional merupakan aplikasi teknologi perilaku untuk menghasilkan perilaku khusus secara sistematik dalam rangka mencapai tujuan instruksional. Keadaan awal siswa yang heterogen dengan latar belakang serta kemampuan yang berbeda-beda akan jadi penghambat bagi proses pencapaian tujuan instruksional bila sejak awal pengajar tidak mengidentifikasi perilaku dan karakteristik siswa yang akan diajar.
Dari uraian singkat di atas, diperoleh gambaran bahwa perilaku dan karakteristik awal siswa penting, karena mempunyai implikasi terhadap penyusunan bahan belajar dan sistem instruksional. Oleh karena itu, dalam pembahasan selanjutnya akan dibicarakan cara mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal mahasiswa. Hasilnya akan menjadi salah satu dasar dalam mengembangkan sistem instruksional yang sesuai untuk mahasiswa tersebut. Dengan melaksanakan kegiatan tersebut, masalah heterogennya siswa dalam kelas dapat diatasi, setidaknya dapat dikurangi.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan diungkapkan pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana cara mengidentifikasi kemampuan siswa?
2. Bagaimana cara mengetahui perilaku awal siswa?
3. Apa-apa saja karakteristik awal siswa yang harus diketahui dalam mengelompokkan siswa kepada taraf yang sama sehingga memudahkannya dalam proses belajar-mengajar?
C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui cara mengidentifikasi kemampuan siswa.
2. Untuk mengetahui perilaku awal siswa.
3. Untuk mengetahui karakteristik awal siswa.
D. Manfaat Pembahasan
1. Sebagai bahan masukan kepada para pembaca khususnya yang menggeluti dunia pendidikan agar bisa mengelompokkan berbagai karakter siswa yang sama pada suatu pembelajaran.
2. Sebagai bahan pertimbangan dan perbandingan bagi siapa saja yang ingin melakukan pembahasan pada pokok masalah yang sama dengan makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. MENGIDENTIFIKASI KEMAMPUAN SISWA
Kemampuan mahasiswa yang ada dalam kelas sering kali sangat bervariasi. Sebagian mahasiswa sudah banyak tahu, sebagian lagi belum tahu sama sekali tentang materi yang diajarkan di kelas. Bila pengajar mengikuti kelompok mahasisiwa yang pertama, kelompok yang kedua merasa ketinggalan kereta, yaitu tidak dapat menangkap pelajaran yang diberikan. Sebaliknya, bila pengajar mengikuti kelompok yang kedua, yaitu mulai dari bawah, kelompok pertama akan merasa tidak belajar apa-apa dan bosan.
Untuk mengatasi hal ini, ada dua pendekatan yang dapat dipilih; pertama, mahasiswa menyesuaikan dengan materi pelajaran dan kedua, sebaliknya, materi pelajaran disesuaikan dengan mahasiswa.
Pendekatan pertama, mahasiswa menyesuaikan dengan materi pelajaran, dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Seleksi penerimaan mahasiswa
a. Pada saat pendaftaran mahasiswa diwajibkan memiliki latar belakang pendidikan yang relevan dengan program pendidikan yang diambilnya.
b. Setelah memenuhi syarat pendaftaran di atas, mahasiswa mengikuti tes masuk dalam pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan program pendidikan yang akan diambilnya.
Proses seleksi ini sering dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal seperti perguruan tinggi dalam menyeleksi calon mahasiswa untuk memasuki unversitas dan sekolah-sekolah menengah swasta yang ingin memilih calon siswa yang baik.
2. Tes dan pengelompokan mahasiswa
Setelah melakukan seleksi seperti dijelaskan dalam butir satu, masih ada kemungkinan pengajar menghadapi masalah heterogennya mahasiswa yang mengambil mata pelajaran tertentu. Karena itu, perlu dilakukan tes sebelum mengikuti pelajaran untuk mengelompokkan mahasiswa yang boleh mengikuti mata pelajaran tersebut.
3. Lulus mata pelajaran prasyarat.
Alternatif lain untuk butir dua di atas adalah mengharuskan mahasiswa lulus mata pelajaran yang mempunyai prasyarat. Dalam suatu program pendidikan di perguruan tinggi terdapat sebagian kecil mata kuliah yang seperti itu.
Pendekatan kedua, materi pelajaran disesuaikan dengan mahasiswa. Pendekatan ini hampir tidak memerlukan seleksi penerimaan mahasiswa. Pada dasarnya, siapa saja boleh masuk dan mengikuti pelajaran tersebut. Mahasiswa yang masih belum tahu sama sekali dapat mempelajari materi pelajaran tersebut dari bawah karena materi pelajaran memang disediakan dari tingkat itu. Mahasiswa yang sudah banyak tahu dapat mulai dari tengah atau dari atasnya. Bahan pelajaran itu didesain untuk dapat menampung mahasiswa dalam tingkat kemampuan awal mana pun. Selanjutnya, mahasiswa dapat maju menurut kecepatan masing-masing, karena bahan tersebut didesain untuk hal tersebut.
Kedua pendekatan di atas bila dilakukan secara ekstrim, tidak ada yang sesuai untuk mengatasi masalah heterogennya mahasiswa dalam sistem pendidikan biasa. Karena itu, terdapat pendekatan ketiga yang mengkombinasikan kedua pendekatan di atas. Pendekatan ketiga ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Menyeleksi penerimaan mahasiswa atas dasar latar belakang atau ijazah. Seleksi ini biasanya lebih bersifat administratif.
b. Melaksanakan tes untuk mengetahui kemampuan dan karakteristik awal mahasiswa. Tes ini tidak digunakan untuk menyeleksi mahasiswa, tetapi untuk dijadikan dasar dalam menyusun bahan pelajaran.
c. Menyusun bahan instruksional yang sesuai dengan kemampuan dan karakteristik awal mahasiswa.
d. Menggunakan sistem instruksional yang memungkinkan mahasiswa maju menurut kecepatan dan kemampuan masing-masing.
e. Memberikan supervisi kepada mahasiswa secara individual.
Dari ketiga pendekatan di atas, terdapat tes-tes yang diberikan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Perilaku awal dan karakteristik siswa menjadi pertimbangan penting dalam merumuskan sistem instruksional sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan hasil yang baik.
B. PERILAKU AWAL
Dalam ilmu psikologi, perilaku adalah segenap manifestasi hayati individu dalam berinteraksi dengan lingkungan, mulai dari perilaku yang paling nampak sampai yang tidak tampak, dari yang dirasakan sampai yang tidak dirasakan. Dalam interaksinya, seseorang bisa menimbulkan perilaku yang bermacam-macam. Bila dikaitkan dengan belajar dan pendidikan, perilaku bergeser mengalami sebuah perubahan, misalnya, perilaku buruk menjadi baik, dari tidak terampil menjadi terampil, dari tidak tahu menjadi tahu, dan lain sebagainya.
Dalam menentukan sebuah sistem instruksional, terdapat tiga macam sumber yang dapat memberikan informasi kepada pendesain instruksional dalam menentukan prilaku awal siswa, yaitu:
1. Siswa atau calon mahasiswa
2. orang-orang yang mengetahui kemampuan mahasiswa atau calon mahasiswa dari dekat seperti pengajarnya terdahulu atau atasannya
3. pengelola program pendidikan yang biasa mengajarkan mata pelajaran tersebut.
Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi perilaku awal siswa yaitu kuesioner, interviu, observasi, dan tes. Subjek yang memberikan informasi diminta untuk mengidentifikasi seberapa jauh tingkat penguasaan mahasiswa atau calon mahasiswa dalam setiap perilaku khusus melalui skala penilaian.
Teknik yang dapat menghasilkan data yang lebih akurat adalah tes penampilan mahasiswa dan observasi terhadap pelaksanaan pekerjaan mahasiswa serta tes tertulis untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa. Tetapi bila tes semacam ini tidak dapat atau tidak tepat untuk dilaksanakan karena beberapa sebab, penggunaan skala penilaian cukup memadai. Skala penilaian tersebut diisi oleh orang-orang yang tahu secara dekat terhadap kemampuan mahasiswa dan diisi oleh mahasiswa sendiri sebagai self-report.
Tidak semua aspek dari keadaan siswa pada awal proses belajar mengajar sama-sama penting; aspek mana yang penting sebagai titik tolak dalam interaksi guru-murid selama pelajaran berlangsung tergantung dari tujuan instruksional. Misalnya, dalam rangka pelajaran sejarah, tidak relevan ditinjau apakah siswa sudah mampu mengapung dalam air, karena pelajaran itu tidak bertujuan membekali siswa dengan kemampuan berenang. Yang relevan ialah meninjau, sampai berapa jauh siswa memiliki suatu kerangka historis, sehingga peristiwa yang terjadi pada tahun 1990 akan ditangkap sebagai peristiwa yang belum lama terjadi, dibanding dengan peristiwa yang terjadi pada tahun 1950. menyelidiki apakah siswa sudah mampu mengapungkan badannya dalam air (tingkah laku awal), baru menjadi relevan dalam pelajaran pendidikan jasmani yang bertujuan supaya siswa mampu berenang dengan gaya katak (tingkah laku final). Inilah pentingnya bagi pengajar untuk mengetahui perilaku awal siswa, karena dari perilaku inilah tergantung bagaimana proses belajar mengajar sebaiknya diatur dan apakah tujuan instruksional khusus yang mula-mula ditetapkan harus mengalami perubahan. Hal ini lebih-lebih berlaku bila perilaku awal itu menyangkut suatu kemampuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan instruksional.
Ketika pengajar telah mengetahui perilaku awal siswa, perlu kiranya memperhatikan hasil tersebut bagi pengembangan tujuan instruksional. Perlu diperhatikan bahwa tugas selanjutnya bagi pengajar tidak hanya sekedar menyesuaikan perilaku awal siswa dengan desain instruksional saja, tetapi lebih dari itu, pengajar harus mempunyai cara dalam memodifikasi tingkah laku awal menjadi tingkah laku final yang ingin dituju. Seorang psikolog terkenal Fred. S. Keller, merancang suatu program modifikasi tingkah laku bagi suatu kursus non gelar dalam psikologi umum telah mendapatkan hasil yang memuaskan sehingga prosedur-prosedurnya dipakai untuk kursus-kursus psikologi atau bidang akademi lain di universitas-universitas beberapa negara. Programnya tersebut menekankan kepada individualisasi dalam kecepatan belajar, penentuan tujuan pendidikan, evaluasi yang dilakukan terus menerus untuk menentukan tingkat kemajuan setiap siswa dalam mencapai tujuan instruksional.
C. KARAKTERISTIK AWAL
Di samping mengidentifikasi perilaku awal mahasiswa, pengembang instruksional harus pula mengidentifikasi karakteristik mahasiswa yang berhubungan dengan keperluan pengembangan instruksional. Minat mahasiswa pada umumnya, misalnya pada olah raga dan musik, karena sebagian besar mahasiswa adalah penggemar musik, dapat dijadikan bahan dalam memberikan contoh dalam rangka penjelasan materi pelajaran. Kemampuan mahasiswa yang kurang dalam membaca bahasa Inggris merupakan masukan pula bagi pengembang instruksional untuk memilih bahan-bahan pelajaran yang tidak berbahasa Inggris atau menerjemahkannya terlebih dahulu ke dalam bahasa Indonesia.
Demikian pula bila mahasiswa senang dengan humor. Pendesain instruksional sebaiknya mempertimbangkan penggunaan lelucon dalam strategi instruksionalnya. Bila mahasiswa sebagian besar tidak mempunyai video di rumah, pendesain instruksional tidak dapat membuat program video untuk dipelajari mahasiswa di rumah. Informasi di atas perlu dicari oleh pengembang instruksional sehingga ia dapat mengembangkan sistem instruksional yang sesuai dengan karakteristik siswa/mahasiswa.
Teknik yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi karakteristik awal mahasiswa sama dengan teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi perilaku awal, yaitu kuesioner, interviu, observasi dan tes.
Seperti halnya dalam mencari informasi perilaku awal siswa, informasi yang dikumpulkan pendesain instruksional terbatas pada karakteristik mahasiswa yang ada manfaatnya dalam proses pengembangan instruksional.
Tujuan mengetahui karakteristik siswa adalah untuk mengukur, apakah siswa akan mampu mencapai tujuan belajarnya atau tidak; sampai di mana minat siswa terhadap pelajaran yang akan dipelajari. Bila siswa mampu, hal-hal apa yang memperkuat; dan bila tidak mampu hal-hal apa yang menjadi penghambat. Hal-hal yang perlu diketahui dari siswa bukan hanya dilihat faktor-faktor akademisnya, tetapi juga dilihat faktor-faktor sosialnya, sebab kedua hal tersebut sangat mempengaruhi proses belajar siswa/mahasiswa.
Hal-hal yang perlu diketahui tersebut adalah:
1. Faktor-faktor akademis
- Berapa jumlah siswa dalam satu kelas
- Apa latar belakang pendidikan (sekolah yang pernah ditempuh)
- Bagaimana nilai rata-rata yang dicapai tiap sekolah/kursus/latihan yang pernah dialami
- Apakah siswa mempunyai kebiasaan belajar sendiri
- Bagaimana kebiasaan belajar siswa
- Apakah siswa sudah mengetahui sedikit tentang latar belakang pokok bahasan yang akan dipelajari
- Apakah tingkat intelegensi siswa tinggi, sedang atau rendah
- Apakah siswa mampu membaca cepat
- Apa saja yang dikuasai oleh siswa (student achievement)
- Bagaimana motivasi belajar siswa
- Apakah yang menjadi harapan siswa setelah mempelajari pokok bahasan tersebut
- Bagaimana aspirasi kebudayaan dan vokasional siswa.
2. Faktor-faktor sosial
- Umur
- Kematangan
- Perhatian (minat)
- Apakah ada siswa teladan dalam satu kelas
- Apakah ada siswa yang cacat fisik
- Bagaimana hubungan antarsiswa
- Bagaimana latar belakang sosial-ekonomis.
3. Kondisi belajar
Menurut Dunn & Dunn, kondisi belajar dapat mempengaruhi konsentrasi, pencerapan dan penerimaan informasi. Pengaruh kondisi lingkungan tempat belajar terhadap seseorang dapat mengakibatkan reaksi yang berbeda-beda. Kita sering menyaksikan bahwa anak-anak muda lebih suka belajar sambil mendengarkan musik dari radio atau tape recorder di sampingnya, dengan volume yang cukup besar. Sementara orang lain lebih suka belajar dengan ruangan yang tenang.
Dunn & Dunn membagi kondisi belajar menjadi empat golongan:
a. Lingkungan fisik (physical environment), seperti pengaruh suaru, cahaya, temperatur, dan pengaturan meja-kursi serta perabotan setempat.
b. Lingkungan emosional (emotional environment), seperti, motivasi individu, ketepatan tugas, dan tanggung jawab.
c. Lingkungan sosiologis (sociological environment), seperti kebiasaan belajar/bekerja sendiri atau bersama, tanggapan terhadap orang/pejabat yang sedang berkuasa, dan sebagainya.
d. Kondisi fisiologis siswa sendiri (student’s owns physiological make up), seperti ketajaman dan kelemahan indera, kebutuhan gizi, tidak atau terlalu banyak mobilitas, penghargaan terhadap waktu sehari-hari, irama kehidupan, dan bagaimana sikapnya terhadap efesiensi tugas-tugasnya.
Untuk mengetahui kebiasaan dan kesenangan belajar tiap siswa, seyogyanya pengajar menyusun kuesioner, atau langsung mencari informasi dari tiap siswa tentang kondisi mana yang lebih disukai. Hal ini akan menolong pengajar dalam membantu cara belajar siswa.
4. Teknik belajar
Ada siswa/mahasiswa yang belajar lebih efektif dan ada yang tidak. Ada yang lebih mudah mengerti dengan pendekatan visual, ada yang mudah menangkap verbal, dan ada yang lebih cocok bila ada kegiatan praktek, latihan, aktivitas fisik, atau simulasi.
Identifikasi teknik belajar ini berkaitan dengan usaha meningkatkan perhatian siswa, dan ini disebut cognitive style mapping. Teknik menyediakan suatu kerangka dalam menggambar dan mencari sebab-sebab, mengapa individu-individu mempunyai teknik belajar yang berbeda-beda. Ada tiga hal yang perlu diuji sehubungan dengan tingkah laku siswa.
a. Sampai seberapa jauh seorang siswa dapat menangkap lambang-lambang teoritis baik berupa kata-kata taupun angka-angka, ketajaman pancaindera, dan penangkapan terhadap hal-hal yang subjektif seperti hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan.
b. Bagaimana pengaruh siswa terhadap hal-hal yang diperoleh dari lambang-lambang teoritis di atas.
c. Bagaimana tabiat siswa dalam memberi alasan, bagaimana pendekatan pendekatan yang dilakukan oleh siswa terhadap suatu masalah dan proses penyimpulannya.
d. Bagaimana kekuatan daya ingat siswa.
Untuk mendapatkan data dari keempat hal tersebut mungkin bisa melalui tes diagnostig atau kuesioner. Hasil daripadanya merupakan merupakan indikasi karakteristik, latar belakang akademis dan sosial siswa yang akan berguna dalam pelaksanaan, baik pengajaran individu maupun kelompok.
Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner-kuesioner tersebut memungkinkan dosen untuk mengetahui sampai berapa jauh tujuan mahasiswa sesuai dengan tujuan dosen mengenai mata kuliah tertentu. Perlu diperhatikan, bahwa seorang dosen tidak bisa sembarangan dalam merubah mata ajaran hanya untuk menyenangkan satu kelas tertentu. Akan tetapi perlu disadari bahwa apabila tujuan mahasiswa dan dosen mengenai suatu mata ajaran sangat berbeda, maka dosen sebaiknya menyampaikan tujuan mata ajaran secara persuasif dan menerangkan kepentingan serta relevansinya pada permulaan kuliah. Sebaiknya dosen juga meninjau uraian katalog tentang mata kuliah tersebut; apabila tujuan mahasiswa berbeda jauh dengan tujuan dosen, maka uraian mata kuliah tersebut perlu diperbaharui. Setiap perubahan yang berarti harus disetujui oleh panitia kurikulum dan panitia jurusan setempat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mengidentifikasi perilaku awal dan karakteristik awal siswa merupakan salah satu unsur penting dalam model pengembangan instruksional. Mengidentifikasinya dengan mengemukakan pendekatan “menerima siswa apa adanya dan menyusun sistem instruksional atas dasar keadaan siswa/mahasiswa tersebut”. Karena itu, mengetahui perilaku yang dikuasai mahasiswa sebelum mengikuti pelajaran diperlukan untuk dapat mencapai tujuan instruksional yang ditetapkan. Dengan kata lain, penetapan suatu tujuan instruksional tergantung pada perilaku awal dan karakteristik awal siswa.
B. Saran
1. Diharapkan kepada lembaga sekolah dalam memanajemen siswa yang baru menerapkan berbagai cara tentang mengidentifikasi perilaku awal siswa sebagai awal dari peningkatan mutu pendidikan.
2. Kepada pembaca agar lebih memahami dan mendalami cara mengidentifikasi perilaku awal siswa ini.
DAFTAR PUSTAKA
Atwi Suparman, Desain Instruksional, cet. 6, Jakarta: Universitas Terbuka, 1997
http://www.pustekom.go.id/teknodik/t13.htm
Mozes. R. Toelihere & Yuhara Sukra, Pedoman Perbaikan Pengajaran, Jakarta: UI-Press, 1988
Mudhoffir, Teknologi Instruksional, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999
Nana Sudjana, Teori-Teori Belajar Untuk Pengajaran, Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Rita Dunn & Kenneth Dunn, Educator’s Self Teaching Guide to Individualizing Instructional Programs, New York: Parker Publishing Co., 1975
Yusufhadi Miarso..dkk (pen), Defenisi Teknologi Pendidikan, Jakarta: Rajawali, 1986
W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, cet. 7, Yogyakarta: Media Abadi, 2005
STANDARISASI NASIONAL PENDIDIKAN
0leh:
Dr.Irwandi Sihombing, S.Ag., S.PdI, MA
A. Pendahuluan
Konsep mutu(kualitas) telah menjadi suatu kenyataan dan fenomena dalam seluruh aspek dan dinamika masyarakat global memasuki persaingan pasar bebas dewasa ini.Jika sebelumnya kualitas produk dan industri yang bergantung pada kepuasan pelanggan atau konsumen, maka kini dunia pendidikan pun mulai tertantang untuk menerapkan hal yang sama dalam menghasilkan kualitas lulusan yang mampu menjawab kebutuhan pasar kerja.Bahwa organisasi pendidikan formal(sekolah dasar sampai perguruan tinggi) sebagai institusi yang bergerak di bidang pendidikan dan pengajaran kini mulai merasakan bahwa faktor mutu atau kualitas menjadi sangat menentukan tingkat partisipasi dan kepercayaan masyarakat terhadap suatu lembaga pendidikan.
Peserta didik, orang tua dan masyarakat adalah pelanggan yang bebas menentukan pilihan yang tepat terhadap institusi mana yang layak memberikan jaminan terhadap masa depan anak-anaknya.Artinya, kualitas layanan yang baik dalam bentuk sarana prasarana, birokrasi, kurikulum, kecakapan tenaga pengajar, kompetensi pimpinan dan karyawan sekolah, budaya serta lingkungan sekolah yang mendukung, akan memungkinkan suatu lembaga pendidikan dipercaya dan menjadi pilihan masyarakat.
Pendidikan yang bermutu atau berkualitas tentu akan menghasilkan pendidikan yang baik sehingga dapat diharapkan mendorong peningkatan mutu pendidikan yang berdampak positif baik bagi siswa sendiri, guru maupun masyarakat.Pendidikan system lama yaitu system bank harus diubah menjadi system yang seimbang, egaliter dan adil yaitu system yang memberikan peluang dan kebebasan kepada peserta didik untuk ikut serta menentukan arah dan program pendidikan.
Pada mata kuliah ini, penulis ingin menguraikan isi makalah yang berjudul : Standar Nasional Pendidikan, pendidikan yang bermutu, studi kitab, pentasihan dan pemberian ijazah, sistim ujian, sistim rekruitmen tenaga pendidik dan kependidikan, sistim studi lanjut, standar nasional pendidikan dan BNSP.
B. Pendidikan yang Bermutu
Dalam konteks pendidikan pengertian mutu, dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam “proses pendidikan” yang bermutu terlibat berbagai input, seperti; bahan ajar (kognitif, afektif atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta menciptakan suasana yang kondusif. Mutu dalam konteks “hasil pendidikan” mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu.
Mutu atau kualitas adalah ukuran baik buruk suatu benda, kadar, taraf atau derajat berupa ; kepandaian, kecerdasan, kecakapan dan sebagainya.Sallis (2000) menjelaskan bahwa mutu atau kualitas adalah sesuatu yang memuaskan dan melampaui keinginan dan kebutuhan seseorang atau sekelompok orang.
Sasaran kualitas manajemen pendidikan adalah proses pencapaian tujuan dan fokusnya adalah kualitas pelayanan belajar yang berimplikasi pada kualitas lulusan. Kualitas pendidikan ini menggambarkan kepuasan para pendidik dalam melaksanakan tugas profesionalnya, karena ia mendapat perlakuan yang sesuai dengan bidang yang digelutinya. Di sisi lain, ia juga menggambarkan kepuasan yang diterima oleh masyarakat atas kualitas pelayanan pendidikan disebabkan masyarakat memperoleh keuntungan dan mamfaat atas kemampuan dan ketrampilan sebagai produk dari pendidikan yang di dalam hal ini sering disebut “mutu lulusan”. Ada empat hal yang terkait dengan prinsip-prinsip pengelolaan kualitas total, yaitu; (i) prehatian harus ditekankan kepada proses dengan terus menerus mengumandangkan peningkatan mutu, (ii) kualitas/mutu harus ditentukan oleh pengguna jasa sekolah, (iii) prestasi harus diperoleh melalui pemahaman visi bukan dengan pemaksaan aturan, (iv) sekolah harus menghasilkan siswa yang memiliki ilmu pengetahuan, ketrampilan, sikap arif bijaksana, karakter dan memiliki kematangan emosional.
Garvin dan Davis (1994), kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen.Mutu yang baik selalu menjadi dambaan setiap orang, terlebih pada bidang pendidikan.Mutu pendidikan pada dasarnya terdiri atas berbagai indicator dan komponen yang saling berkaitan.Komponen dan variable yang menentukan terwujudnya mutu pendidikan yang baik secara umum masih dikaitkan dengan system, kurikulum, tenaga pendidik, peserta didik (siswa), proses belajar mengajar, anggaran, sarana prasarana pendidikan, lingkungan belajar, budaya organisasi, kepemimpinan dan sebagainya. Mutu pendidikan tidak diukur hanya berdasarkan hasil ujian atau test peserta didik, karena memiliki rangkaian yang saling berhubungan mulai dari input, output dan outcome.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa komponen-komponen yang dapat menjadikan pendidikan bermutu terdiri dari beberapa komponen, salah satunya partisipasi masyarakat, dalam kaitan ini yang dimaksudkan dengan masyarakat adalah masyarakat yang secara langsung terlibat dalam sistem penyelenggaraan pendidikan. Pada saat ini, masyarakat yang terlibat langsung yaitu masyarakat yang berada pada wadah organisasi Komite Sekolah, dan telah menjadi bagian dari sistem pendidikan. Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa pendidikan akan kondusif bila berhubungan dengan lembaga pendidikan menjalankan tugasnya untuk mencapai tujuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan pendidikan.
Mutu pendidikan dan sekolah tertuju juga pada mutu lulusan. Merupakan sesuatu yang mustahil, pendidikan atau sekolah menghasilkan lulusan yang bermutu, jika tidak melalui proses pendidikan yang bermutu pula. Terjadi proses pendidikan yang bermutu jika didukung oleh beberapa faktor-faktor penunjang proses pendidikan yang bermutu, adalah harus didukung oleh personalia, seperti admistrator, guru, konselor, dan tata usaha yang bermutu dan profesional. Hal tersebut didukung pula oleh sarana dan prasarana pendidikan, media serta sumber belajar yang memadai, baik mutu maupun jumlahnya dan biaya yang mencukupi, manajemen yang tepat serta lingkungan yang mendukung. Mutu pendidikan bersifat menyeluruh, menyangkut semua komponen pelaksana, dan kegiatan pendidikan, atau disebut mutu total atau total quality, 18 adalah sesuatu yang tidak mungkin, hasil pendidikan yang bermutu dapat dicapai hanya dengan satu komponen atau satu kegiatan yang bermutu.
C. Studi Kitab
D. Pentahsihan dan Pemberian Ijazah
E. Sistem Ujian
F. Sistem Rekrukmen Tenaga Pendidik dan Kependidikan
Perekrutan Tenaga Pendidik dan Tenaga kependidikan harus melalui uji kelayakan dari semua aspek termasuk kwalifikasi pendidikan.Hal ini dimaksusdkan agar tenaga pendidik yang ditempatkan benar-benar mampu menguasai bidangnya.Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) pada bagian Standar Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan dinyatakan bahwa criteria pendidikan termasuk pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.Standar ini disusun oleh dan dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional.Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik minimal Strata satu (S1) tidak boleh lagi yang tidak strata satu mengajar di semua tingkatan dan memiliki Akta empat atau akta mengajar dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani.
Kualifikasi akademik untuk tenaga pendidik khusunya harus memiliki tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah/Sertifikat keahlian yang relevan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi profesionalisme dan kompetensi social.
E. Mulyasa mengatakan bahwa tenaga kependidikan bertujuan untuk mendayagunakan tenaga kependidikan secara efektif dan efisien guna mencapai hasil optimal, namun tetap dalam kondisi menyenangkan.
Tenaga kependidikan mencakup tujuh komponen, yaitu:
1. Perencanaa pegawai
2. Pengadaan pegawai
3. Pembinaan dan pengembangan pegawai
4. Promosi dan mutasi
5. Pemberhentian pegawai
6. Kompensasi
7. Penilaian pegawai.
Tujuh komponen ini dilaksanakan secara tertib, urut, dan berkesinambungan sehingga harus melalui tahapan-tahapan yang sudah ditentukan. Tahapan awal menjadi prasyarat bagi tahapan kedua, sedang tahapan kedua menjadi prasayarat bagi tahapan ketiga dan begitu selanjutnya.
G. Sistem Studi Lanjut
Dewasa ini tengah terjadi perubahan paradigma dalam bidang pendidikan, yaitu suatu cara pandang yang mendasari berbagai komponen pendidikan.Visi, misi, tujuan, kurikulum, proses belajar mengajar, peran dan fungsi seorang guru, pengelolaan dan berbagai komponen pendidikan lainnya, saat ini tengah terjadi perubahan yakni system studi lanjut.
Pendidikan dewasa ini bukan hanya sekedar mengejar target, namun sudah diarahkan kepada memfungsikan pendidikan sebagai pranata social yang unggul dan terdepan sesuai dengan visi masing-masing sekolah.Dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, progresif, percaya diri, mandiri, memiliki bekal pengetahuan canggih serta memiliki daya tahan mental spiritual yang tangguh.Sistem studi lanjut ini diarahkan pada upaya melaksanakan dan menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan serta sarana untuk memberdayakan manusia agar menjadi orang yang berguna bagi dirinya bangsa dan Negara.
H. Standar Nasional Pendidikan dan BNSP
Perdebatan seputar perlu-tidaknya pendidikan di Indonesia distandardisasi seperti yang berlaku di Negara-negara maju Pendidikan, baik pada tataran formal, informal dan non form, mendapat pro kontra baik dari masyarakat, praktisi, akademisi dan pemerhati pendidikan.Standarisasi dimaknai sebagai penentuan standar/criteria minimal terhadap layak tidaknya unsure-unsur penting dalam penyelenggaraan pendidikan.Penetapan standar sebagaimana dimaksudkan dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003, setidaknya menggambarkan optimisme Pemerintah dengan DPR untuk mendongkrak mutu pendidikan nasional sehingga diharapkan tidak tertinggal jauh di bandingkan dengan Negara-negara maju lainnya khususnya di Asia Tenggara.
Secara konseptual adalah instrument social yang memungkinkan memanusiakan manusia.Artinya, manusia membutuhkan pendidikan sebagai sarana untuk memberdayakan potensi sumber daya yang ada dalam dirinya untuk berkembang secara dinamis menuju suatu format kepribadian yang cerdas, unggul, kreatif, trampil, bertanggung jawab dan berakhlaq mulia.
Sebagai tindaklanjut dari ditetapkannya Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), maka Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 menetapkan standar nasional pendidikan yang dapat dijadikan sebagai pedoman yang mengarahkan setiap praktisi, birokrat dan penyelenggara pendidikan untuk menggunakan standarisasi dalam proses, penyelenggaraan dan hasil pendidikan dari semua jenjang dan satuan pendidikan.Dalam pasal 1 ayat 1 dan ayat 4 s/d 11 disebutkan :
1. Standar Nasional Pendidikan adalah criteria minimal tentang system pendidikan di seluruh wilayah hokum Nagara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Standar Kompetensi Lulusan adalah kualifikasi kemempuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan ketrampilan.Standar ini diatur dalam Permendiknas Nomor 23 tahun 2006.
3. Standar Isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituanglkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan sillabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.Standar ini diatur dalam Permendiknas Nomor 22 tahun 2006.
4. Standar Proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai satandar kompetensi lulusan.Standar ini diatur dalam Permendiknas Nomor 41 tahun 2007.
5. Standar Pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental serta pendidikan dalam jabatan.Standar ini diatur dalam Permendiknas Nomor 27 tahun 2008.
6. Standar Sarana dan Prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain yang di perlukan untuk menunjang proses pembelajaran termasuk penggunaan tekhnologi informasi dan komunikasi.Standar ini diatur dalam Permendiknas Nomor 24 tahun 2007.
7. Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, Kabupaten/Kota, Provinsi atau Nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.Standar ini diatur dalam Permendiknas Nomor 19 tahun 2007.
8. Standar Pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.Standar ini diatur dalam PP Nomor 48 tahun 2008.
9. Standar Penilaian Pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.Standar ini dikembangkan BSNP dan ditetapkan oleh Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2007.
Sebagai manifestasi dari perlakuan undang-undang nomor 20 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005, maka operasionalisasi ketentuan mengenai komponen-komponen pendidikan yang memerlukan standarisasi yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasioanal.
I. Penutup
Sesungguhnya pencarian format dan konsep yang mengarah kepada peningkatan mutu bagi dunia pendidikan kita terus berlanjut tanpa henti, seperti roda pedati yang terus berlaju mengejar arah yang dituju. Dan sebagai ujung tombak yang mengemban amanat undang-undang dasar 1945 dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dunia pendidikan terus menata diri seiring dengan demokrasisasi pendidikan yang mengusung konsep penerapan pengelolaan pendidikan yang berfokus pada otonomi dan independensi dalam penentuan keputusan dan kebijakan local dalam rangka meningkatkan mutu, efisiensi dan pemerataan pendidikan.
Jumat, 10 Maret 2017
PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM ;
LATAR BELAKANG DAN BENTUK
0leh :
Dr. Irwandi Sihombing, S.Ag, S.PdI, MA
A. Pendahuluan.
Sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, merupakan kebangkitan Islam di kalangan warga Arab dipinggiran imperium Usmani.Gerakan Wahabi sebuah gerakan puritan (gerakan Salafiyah) yang merupakan sarana yang menyiapkan jembatan kearah pembaharuan Islam abad ke-20 yang bersifat intlektual. Gerakan pembaruan pemikiran di dunia Islam terjadi secara massif dengan munculnya banyak tokoh-tokoh Muslim ataupun organisasi terkemuka di berbagai negara, seperti Mesir, Iran, Pakistan (India), dan Indonesia. Gagasan pembaruan tersebut dimunculkan melalui istilah dan aksentuasi yang berbeda, antara lain tajdid (renewal, pembaruan) dan ishlah (reform, reformasi), baik yang bertendensi puritanistik dari segi ajaran maupun revivalistik dari segi politik. Makalah ini, mengenalkan kepada mahasiswa gerakan modern dalam Islam yang dipelopori oleh tokoh maupun organisasi Islam di beberapa negara.
Makalah ini akan menguraikan tentang latar belakang gerakan pembaharuan yang terjadi dalam Islam, ruang lingkup, tujuan, tipologi gagasan, tokoh-tokohnya dan beberapa gerakan pembaharuan di negara-negara muslim.
B. Latar Belakang dan Orientasi
1. Dampak Perang Salib
Perang Salib yang berlangsung selama hampir dua abad (492 H/1099 M–539 H/ 1144 M) membawa dampak yang sangat berarti terutama bagi Eropa yang beradabtasi dengan peradaban Islam yang jauh lebih maju dari berbagai sisi. Perang Salib menghasilkan hubungan antara dua dunia yang sangat berlainan. Masyarakat Eropa yang lamban dan enggan terhadap perdagangan dan pendapatnya yang naïf terhadap dunia usaha.
Secara sederhana dampak Perang Salib dapat dijelaskan sebagaimana berikut: Pertama : Perang salib yang berlangsung antara Bangsa Timur dengan Barat menjadi penghubung bagi Bangsa Eropa khususnya untuk mengenali dunia Islam secara lebih dekat lagi. Ini memiliki arti yang cukup penting dalam kontak peradaban antara Bangsa Barat dengan peradaban Timur yang lebih maju dan terbuka. Kontak peradaban ini berdampak kepada pertukaran ide dan pemikiran kedua wilayah tersebut. Bangsa Barat melihat kemajuan ilmu pengetahuan dan tata kehidupan di Timur dan hal ini menjadi daya dorong yang cukup kuat bagi Bangsa Barat dalam pertumbuhan intelektual dan tata kehidupan Bangsa Barat di Eropa. Interaksi ini sangat besar andilnya dalam gerakan renaisance di Eropa.
Kedua : Pra Perang Salib masyarakat Eropa belum melakukan perdagangan ke Bangsa Timur, namun setelah Perang Salib interaksi perdagangan pun dilakukan. Sehingga pembauran peradaban pun tidak dapat dihindarkan terlebih lagi setelah Bangsa Barat mengenal tabiat serta kemajuan Bangsa Timur. Perang Salib membawa perubahan yang cukup signifikan terhadap perkembangan ekonomi Bangsa Eropa. Kehidupan lama Bangsa Eropa yang berdasarkan ekonomi semata sudah berkembang dengan berdasarkan mata uang yang cukup kuat. Dengan kata lain Perang Salib mempercepat proses transformasi perekonomian Eropa.
Perang salib telah menjadi media hubungan dan perkenalan dua kultur dan peradaban yang berbeda yang pada masa selanjutnya akan membawa dampak lain di segala bidang.
Di kalangan ummat Islam itu sendiri muncul kemandegan berpikir. Kemandegan berfikir ini penjelmaan dari tingkat puncak kejenuhan terhadap filsafat yang mengedepankan rasio dalam segala hal. Kemandegan berfikir di kalangan ummat Islam merupakan pengaruh dari ajaran sufi yang tidak dibarengi dengan ajaran filsafat. Hal itu menimbulkan dampak statisnya ummat Islam.
Di sisi lain, negara-negara Barat yang telah berhubungan dengan Islam mulai menjajah negara-negara Islam. Penjajahan Eropa terhadap negara-negara Islam hampir terjadi di seluruh belahan dunia. Kondisi yang kompleks dan memprihatinkan tersebutlah yang kemudian melahirkan gerakan-gerakan pembaharuan dalam Islam.
2. Ekspansi Napoleon
Pada tahun 1789 Mesir dibawah kekuasaan Perancis yang dipimpin oleh Napoleon. Di samping itu juga ingin memperkenalkan kebudayan yang maju di saat itu yang dimiliki oleh mereka, yang mana pada hakikatnya kemajuan itu bersumber dari Islam dan dikembangkan oleh mereka.
Ternyata selain gerakan militer ia juga mendatangkan keperluan ilmiah berupa dua set alat percetakan dengan huruf latin, Arab dan Yunani. Dengan demikian terbentuklah lembaga pendidikan yang dinamai dengan d’Egypte, yang terdiri dari beberapa jurusan seperti Ilmu Pasti, Ilmu Alam, Ekonomi-Politik, dan Sastra Seni.
Kemajuan yang dimiliki bangsa Eropa saat itu membuat para ulama Islam merasa takjub dan menyadari akan keterbelakangan umat Islam ketika itu, seperti yang dinyatakan Abd Al-Rahman Al-Jabarti dalam kata-katanya tatkala ia melihat alat-alat ilmiah seperti teleskop, mikroskop, dan buku-buku yang ada di Institut d’Egypte:
“Saya lihat di sana benda-benda dan percobaan-percobaan ganjil menghasilkan hal-hal yang besar untuk dapat ditangkap oleh akal seperti yang ada pada diri kita”.3
Dengan demikian ekspedisi Napoleon telah membuat kesadaran dan membuka mata umat Islam Mesir dari kelemahan yang mereka miliki.
C. Tipologi, Tema, Tujuan, bentuk-bentuk Pembaharuan Pendidikan Islam.
Pada dasarnya kehadiran para tokoh modenis (pembaharu) itu pada umumnya untuk membangkitkan kesadaran keagamaan umat Islam.Diantara tokoh-tokoh gerakan-gerakan pembaharuan Islam pada abad-abad sebelum abad 19 dan sesudahnya memiliki kesamaan-kesamaan dasar, yaitu:
1. Gerakan itu berasal dari masyarakat Islam itu sendiri.
2. Gerakan tersebut pada dasarnya merupakan kritik terhadap pemahaman yang mandeg terhadap ajaran Islam yang menghasilkan manusia muslim yang menjauhi tugas-tugas manusia dalam pergumulan sosial di dunia konkrit.
3. Gerakan pembaharuan menekankan pada pentingnya rekontruksi sosio-moral dan sosio-etnik masyarakat muslim.
Yang menjadi tema sentral gerakan pembaharuan yang terjadi di kalangan masyarakat muslim adalah:
1. Ajaran Islam dari segi sosial, yakni sejauh manakah Islam mengajarkan keadilan sosial, ekualitas antara pria dan wanita dan sebagainya.
2. Hubungan antara Agama dan negara dan pandangan Islam terhadap sekularisme.
3. Masalah-masalah pembaharuan hukum.
4. ajaran-ajaran Islam di bidang ekonomi.
5. pembaharuan dalam bidang pendidikan.
Jadi dapat dikatakan bahwa gerakan pembaharuan itu menginginkan pembaharuan dalam apsek sosial yang meliputi pendidikan, hukum, politik, moral dan sebagainya.
Beberapa dasar atau bentuk bentuk pembaharuan, seperti yang diajarkan oleh Muhammad Abduh adalah:
Dasar pertama: Penghargaan terhadap akal,Abduh mengatakan bahwa Islam adalah agama yang rasional yang sejalan dengan akal, sebab dengan akallah ilmu pengetahuan maju.Pandangan rasional dalam mencapai iman. Asas pertama yang diletakkan Islam adalah rasional dalam memandang segala sesuatu, karena hanya dengan pandangan secara rasional itulah wasilah yang bisa menghatarkan pada iman yang benar.
Dasar kedua: mendahulukan akal atas dzahir nash jika terjadi pertentangan. Dan metode dalam membaca nash di bagi dua : pertama, menyerahkan keabsahan nash dengan kesadaran akan kelemahan akal untuk memahaminya dan menyerahkan hakikatnya pada Allah. Kedua, mentakwil dzahir nash hingga memiliki makna yang tidak bertentangan dengan akal.
Dasar ketiga: menjauhkan diri dari sikap pentakfiran, adapun ucapan Abduh yang terkenal dalam hal ini ialah bila terucap dari seseorang sebuah kalimat yang memiliki kecenderungan kafir dari seratus sisi dan memiliki kecendrungan pada iman dari satu sisi maka kewajiban kita untuk menilai dia sebagai seorang yang beriman dan bukan seorang kafir.
Dasar keempat: pengakuan atas sunnatullah di alam. Sesungguhnya pada alam dan masyarakat terdapat sunnatullah yang menciptakan adanya undang-undang sebab akibat tentang alam semesta.
Dasar kelima: menghilangkan otoritas keberagamaan, sebagaimana Islam menghilangkan otoritas keagamaan yang hanya dimiliki sesorang. Dan selain Allah dan rasulnya tidak ada yang memiliki otoritas dan hak untuk menilai akan akidah seseorang, apakah dia seorang yang beriman atau kafir. Yang terdapat dalam Islam hanyalah mauidzah hasanah, seruan pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dan bukan pengadilan atas akidah seseorang.
Dasar keenam: meneruskan dakwah Islam untuk mencegah fitnah, ada ungkapan bahwa Islam adalah agama jihad, disyari’atkan di dalamnya qitaal (perang) sebagaimana tidak terdapat di agama masihi, sebagaimana ada ungkapan bahwa ruh Islam adalah keras terhadap yang berbeda denganya. Abduh ingin menegaskan bahwa Islam lahir dengan tabiat toleransi. Andaipun di Islam dikenal dengan qitaal (perang) maka ia dimaksud untuk membalas perlawanan yang diperolehnya sebelumnya. Dan tidak terdapat dalam Islam pemaksaan atas nama agama dan permusuhan terhadap yang berbeda denganya.
Dasar ketujuh: menumbuhkan sikap cinta terhadap para pemeluk agama yang berbeda. Ini dipertegas dengan diizinkanya oleh Islam untuk menikah dengan wanita ahlul kitab, Yahudi maupun Nasrani. Dan diberikannya kebebasan padanya untuk tetap memeluk agama asalnya dan menjalankan segala ibadahnya dan juga hak untuk berpegian ke gereja.
Dasar kedelapan: penggabungan antara maslahat dunia dan akhirat. Kehidupan dalam Islam lebih didahulukan daripada sebuah agama. Islam tidak membenarkan adanya rahbaniyyah, Islam juga tidak melarang semua kenikmatan di dunia sebagaimana diwajibkanya puasa, namun bila dia takut denganya akan sakit ataupun semakin bertambah penyakitnya maka Islam pun membolehkan untuk mengganti di hari lain. Dan ini semua menggambarkan dengan jelas atas keseimbangan maslahat agama dan dunia.
Dasar kesembilan : Memodernisasikan sistem pendidikan Islam di Al-Azhar.
D. Pembaruan dan Modernisasi Pendidikan dalam Islam.
Pada prinsipnya, pembaru Islam adalah orang yang memikirkan dan menyikapi fenomena kehidupan, agar umat terbebas dari belenggu sistem yang stagnan menuju kemajuan (modern) dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam hakiki. Jalan mereka untuk membebaskan dan memajukan umat ini pun sangat heterogen, ada yang akomodatif, provokatif, dan radikal.
Munculnya para pemikir dan pembaru pada akhir abad ke 19 M dan awal abad ke 20 seperti Jamaluddin Al-Afghani (1839-1897 M), Muhammad Abduh (1849-1905 M), Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935 M), Muhammad bin Abdil-Wahab (1703-1792 M), Hasan Al-Banna (1906-1949 M), Abul A’la Al-Maududi (1903-1979 M), Sayyid Quthb (1906-1968 M), dan Ali Abd Ar-Raziq (1888-1966 M), yang kemudian melahirkan apa yang disebut fundamentalisme, modernisme, tradisionalisme, sekularisme Islam, nasionalisme, dan lain-lain adalah bentuk-bentuk riil dari hasil interaksi intensif antara Islam dan persoalan kemasyarakatan.
Kemunduran umat Islam membuat kalangan intelektual Muslim berpikir keras bagaimana mengentaskan ketertinggalan umat Islam agar dapat berdiri sejajar dengan umat lain. Dalam rangka memajukan umat Islam dan mengejar ketertinggalan dari bangsa lain, Jamaluddin Al-Afghani misalnya, lebih menitikberatkan pada nasionalisme Muslim dan persatuan umat Islam (Pan-Islamisme) untuk membebaskan umat Islam dari cengkraman penjajah, sedangkan Muhammad Abduh lebih banyak berorientasi pada bidang pendidikan dan pemahaman keagamaan dengan menghidupkan kembali ajaran rasional mu’tazilah dan menolak taklid buta. Tak heran jika banyak orang menyebut pemikiran Abduh sebagai Neo-Mu’tazilah.
Rasyid Ridha, salah seorang murid Abduh, dalam modernisasi umat Islam ia menganjurkan untuk kembali ke Alquran dan Sunnah. Menurut Ridha, dalam setiap menyelesaikan masalah umat Islam harus berpaling ke dua sumber tersebut, dan tidak perlu berpaling ke Barat. Ridha juga menekankan pembaruan dalam bidang hukum, untuk hal ini memerlukan restorasi Khilafah Islamiyah. Menurutnya, sistem politik Islam yang benar adalah sistem khilafah, di mana khalifah berkonsultasi kepada ulama karena ulama adalah penafsir hukum Islam. Meskipun Ridha mendukung berdirinya sistem khilafah, tetapi ia juga mendukung nasionalisme. Menurutnya, nasionalisme tidak akan melemah persatuan umat Islam transnasional (Pan-Islamisme) hingga ideal Islam tetap utuh.
Muhammad bin Adil-Wahab menginginkan masyarakat Islam mengikuti jejak Nabi Muhammad Saw. secara murni. Gerakan yang dimotorinya adalah gerakan yang bermaksud mengadakan purifikasi (pemurnian) atas ajaran Islam yang telah bercampur dengan budaya lokal. Dia menolak segala bentuk kemusyrikan seperti menziarahi kuburan orang-orang suci dengan maksud meminta berkah dan menyerang praktik-praktik aliran sufi yang dianggapnya sebagai bid’ah. Ia menganjurkan kembali ke Alquran dan Sunah dan menolak otoritas masa lampau dengan tetap menghormatinya. Pemikiran Abdil-Wahab ini diilhami oleh paham Ibnu Taimiyah, yang secara rutin menyerukan untuk kembali ke “asal-usul” Islam. Berbeda dengan Ibnu Taimiyah, dalam memberantas apa yang dianggapnya salah, Abdil-Wahab menggunakan kekuatan bersenjata dan kekerasan.
Hasan Al-Banna (pendiri Ikhwanul Muslimun), Al-Mawdudi (Pendiri Jema’at Islam), dan Sayyid Quthb (ideolog Ikhwanul Muslimun), adalah tokoh-tokoh yang sama berjuang melawan pemerintah yang tengah berkuasa yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Merekalah, menurut L. Carl Brown (Wajah Politik Islam, 2003: 234), yang memberikan landasan idologis bagi gerakan-gerakan radikal dari kelompok Sunni. Mereka dianggap sebagai inspirator yang melahirkan gerakan-gerakan radikal di seluruh penjuru dunia Islam, karangan-karangan mereka merupakan buku yang wajib dibaca bagi mereka yang masuk dalam gerakan-gerakan radikal. Berbeda dengan Brown yang memandang Hasan Al-Banna sebagai fundamentalis, Karen Armstrong melihat Al-Banna tidak sebagai fundamentalis tapi sebagai reformis yang menginginkan reformasi fundamental masyarakat Islam.
Sementara itu, modernisasi umat Islam untuk mengejar ketertinggalan dari masyarakat Barat, menurut Abdurraziq mensyaratkan pemisahan mutlak antara negara dan Islam. Menurut Raziq, Islam tidaklah datang tidak untuk membentuk sebuah negara dan begitu juga Nabi Muhammad Saw. hanyalah seorang nabi yang bertugas menyampaikan risalahnya, beliau tidak punya kewajiban membentuk sebuah negara. Menurut Abdurraziq, Islam tidak mengenal adanya lembaga kekhalifahan sebagaimana secara umum dipahami oleh kaum Muslim. Lembaga kekhalifahan tidak ada kaitannya dengan tugas-tugas keagamaan. Islam tidak memerintahkan untuk mendirikan kekhalifahan dan juga tidak melarang. Agama (Islam) menyerahkannya kepada pilihan kita yang bebas.
E. Aspek-aspek gerakan pembaharuan Pendidikan Islam.
1. Mesir
Para tokoh dalam pembaharuan di Mesir ini antara lain: Muhammad Ali Pasya, beliau di lahirkan di Kawwala, Yuai tahun 1765 M dan wafat tahun 1849 M di Mesir.Sejak kecil ia memiliki ketrampilan dan kecerdasan yang luar biasa.Dalam perjalanan karirnya, banyak usaha yang dilakukannya untuk memperbaharui atau memodernisir keadaan umat Islam yang telah jauh tertinggal dari negara-negara barat. Ia adalah salah seorang perwira yang dikirim ke Mesir oleh Sultan Salim III (1789-1807) untuk melawan Napoleon yang telah menguasai seluruh Mesir.Setelah Muhammad Ali Pasya dapat menguasai Mesir pada tahun 1811, ia mulai membangun negeri itu dengan membentuk kementrian Pendidikan, membuka Sekolah Militer (1815), Sekolah Teknik (1816), Sekolah Kedokteran (1827), Sekolah Pertambangan (1815), Sekolah Penerjemahan (1836), dan Sekolah Apoteker (1829). Adapun para pengajar di datangkan dari Barat, dan semua ceramah diterjemahkan kedalam bahasa Arab dan Turki.
Rifa’ah Badawi Rafi’ Al-Tahtawi, seorang pembaharu yang memiliki pengaruh yang sangat besar pada abad ke-19 di Mesir. Lahir pada tahun 1801M di Tahta, suatu kota yang terletak di Mesir bahagian Selatan, dan wafat di Cairo tahun 1873 M. ia menyelesaikan studinya di Al-Azhar tahun 1822 M, menjadi kesayangan gurunya Syaikh Hasan Al-Attar yang banyak mempunyai hubungan dengan ahli-ahli ilmu pengetahuan Perancis yang datang dengan Napoleon ke Mesir. Tahtawi menjadi guru dialmamaternya di Universitas Al-Azhar selama 2 tahun dan pada tahun 1824 menjadi imam tentara14 .Karena mendapat dorongan yang kuat dari gurunya al-‘Attar dan kesempatan yang diberikan oleh Muhammad Ali Pasya kepadanya,maka Ia melanjutkan studinya ke Perancis dan menjadi Imam para pelajar Mesir di Prancis.Selama belajar di Prancis ia banyak membaca buku karya tokoh-tokoh besar umat Islam dan bangsa barat.Dengan ketekunan belajar bahasa Prancis secara otodidak, akhirnya ia mampu menyaingi kehebatan pelajar-pelajar Mesir lainnya yang belajar bahasa itu secara formal di kelas-kelas.Selama di Prancis pula ia menterjemahkan buku-buku yang berbahasa Perancis ke dalam bahasa Arab sebanyak 12 buku dan risalah. Sekembalinya dari luar negeri ia pun di beri kepercayaan untuk mendirikan Sekolah penerjemah tahun 1836 M dan diangkat sebagai guru bahasa Perancis dan penerjemah di sekolah Kedokteran di Cairo. Tahtawi berpendapat bahwa penerjemahan buku-buku Barat ke dalam bahasa Arab amat penting agar umat Islam dapat mengetahui ilmu-ilmu yang membawa kemajuan Barat, dan dengan demikian umat Islam akan bisa pula untuk berusaha memajukan diri mereka dengan usaha yang kuat. Salah satu karangan bukunya yang sangat memberikan pengaruh kepada kemajuan bagi orang Mesir adalah manaahiju al-albaabi al-mishiyati fi manaahiji al-adabi al-‘ashriyati,buku yang menerangkan jalan bagi orang Mesir untuk mengetahui leteratur modern dalam bidang ekonomi bagi kemajuansuatu negara. Ia juga berpendapat bahwa kaum ulama harus mengetahui ilmu-ilmu modern agar mereka dapat menyesuaikan syari’at dengan kebutuhan-kebutuhan modern.Disamping itu, ia juga aktif menulis di koran “ Al-Waqa’I al-Mishriyah”.
Jamaluddin Al-Afghani, nama aslinya adalah Sayyid Jamaluddin al-Afghani adalah seorang pemimpin pembaharuan dalam Islam yang selalu berkelana, dan meninggalkan pengaruh yang amat besar di Mesir. Lahir di Assad (Afghanistan) tahun 1938 M, dan wafat pada tahun 1897 M di Istambul.Sejak kecil ia sudah belajar membaca al-Qur’an, belajar bahasa Arab, Persia dan ilmu-ilmu tafsir, hadis, tasauf dan filsafat. Pada usia 20 tahun ia telah menjadi pembantu bagi Pangeran Dost Muhammad Khan di Afghanistan. Menjadi penasehat Sher Ali Khan tahun 1864 M. Kemudian diangkat mejadi perdana mentri oleh Muhammad A’zam khan.Jamaluddin al-Afghani memiliki kecerdasan dan kepribadian yang menarik dan banyak memperoleh pengalaman selama mengembara ke berbagai negara seperti India dan Mesir.Kemudian beliau juga pernah menjadi dosen kaum Intlektual di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Pada tahun 1879 atas usaha dari Al-Afghani terbentuk sebuah partai politik yang dinamai dengan Al-Hizb Al-Watani (partai nasional). Yang mana partai ini bertujuan memperjuangkan pendidikan universal, kemerdekaan pers dan pemasukan unsur-unsur Mesir ke dalam setiap posisi militer. Menurut M.S. Madkur, Al-Afghanilah yang membangkitakan gerakan berfikir di Mesir sehingga negeri ini dapat mencapai kemajuan. Di lain sisi banyak tanggapan yang mengatakan bahwa sanya Al-Afghani lebih aktif bergerak dibidang politik ketimang pembaharuan dalam Islam. Oleh karena itu Goldziher memandang bahwa ia adalah tokoh politik dan bukan tokoh pembaharuam dalam agama Islam. Walaupun demikian perlu kita ketahui bahwa aktifitas politik yang dilakukan Al-Afghani adalah merupakan landasan dasar dari ide-idenya tentang pembaharuan dalam Islam. Ia meyakini bahwa Islam adalah sesuai untuk semua bangsa, zaman, dan keadaan. Yang kesemua itu baru dapat dirasakan dengan mendalami ilmu dan mengertis serta sanggupuntuk berijtihad, oleh karena itu hendaknya pintu ijtihad di buka kembali setelah sekian lama terkunci oleh penetrasi Barat. Selain itu sebab dari kemunduran yangbersifat politis adalah perpecahan yang terdapat di kalangan umat Islam, pemerintahan absolut, mempercayakan pimpinan umat kepada orang-orang yang tidak dapat dipercayai, mengabaikan masalah pertahanan militer, menyerahkan administrasi negara kepada orang-orang yang tidak kompeten dan intervensi asing. Dan menurut Al-Afghani untuk memperbaiki hal ini adalah melenyapkan pengertian-pengertian salah yang dianut umat pada umumnya, dan kembali kepada ajaran-ajaran dasar Islam yang sebenarnya, mensucikan hati, berbudi pekerti luhur, kesediaan berkorban untuk kepentingan umat, dengan demikian umat Islam akan dapat kembali merebut kejayaan yang telah pernah ia miliki berabad-abad yang lalu. Semasa hidupnya, Al-Afghani selalu berusaha untuk dapatmewujudakn persatuan di kalangan umat Islam di bawah satupanji Islam. Tujuannya ini terkandung dalam ide pan-Islam (persatuan seluruh umat Islam), tetapi usahanya tidak berhasil dengan mulus.Karena persoalan politik di Mesir, Jamaluddin pergi ke Paris Prancis.Di kota ini ia mendirikan sebuah organisasi bernama al-Urwatul Wutsqa yang beranggotakan muslim militan dari India, Syiria dan Afrika Utara yang bertujuan memperkuat persaudaraan Islam, membela dan mendorong umat Islam untuk mencapai kemajuan baik di bidang politik, sosial, pendidikan dan mengembalikan kejayaan umat Islam itu sendiri.
Muhammad Abduh, ia lahir pada tahun 1849 M, di suatu desa di Mesir Hilir, dan menurut sebahagian dilahirkan pada tahun 1842 M. keturunan dari Turki-Arab, ayahnya Abduh Hasan Khairullah (Turki) dan ibunya (Arab) yang silsilahnya sampai pada suku Umar bin Khattab. Belajar agama di Tanta di sebuah Masjid yang bernama Syekh Ahmad Al-Badawi pada tahun 1862, pada tahun 1866 ia meneruskan studinya ke Al-Azhar, dan di sana ia bertemu dengan Jamaluddin Al-Afghani dan menjadi muridnya. Muhammad Abduh menyelesaikan studinya di Al-Azhar tahun 1877 M dan mendapat gelar Alim. Selanjutnya, ia mengajar di Al-Azhar, Dar Al-Ulum. Menjadi direktur surat kabar Mesir pada tahun 1880 M. ia juga berperan dalam peristiwa revolusi Urabi Pasya (peristiwa pemboman Alexandria dari laut oleh pasukan Inggris pada tahun 1882. di tahun 1894, ia diangkat menajdi anggota Majlis A’la dan Al-Azhar, dan ia membawa perobahan-perobahan dan perbaikan ke dalam tubuh Al-Azhar sebagai Universitas. Dan tahun 1899, ia diangkat menjadi Mufti Mesir dan ini merupakan kedudukan yang tertinggi yang pernah dijabatnya sampai ia meninggal dunia tahun 1905 M.Sebagai rektor (mufti) Al-Azhar, ia memasukkan kurikulum filsafat dalam pendidikan di Al-Azhar.Upaya itu di lakukan untuk mengubah cara berfikir orang-orang Al-Azhar.Namun usahanya ini mendapat tantangan keras dari para Syeikh Al-Azhar lainnya yang masih berfikiran kolot.Oleh karena itu, usaha pembaharuan yang di lakukannya lewat pendidikan di Al-Azhar tidak berhasil. Kemudian menurut pemahaman dari ide-ide Muhammad Abduh tentang pembaharuan dalam Islam bahwa kemunduran yang terjadi pada umat Islam disebabkan adanya faham jumud yang terdapat dikalangan umat Islam. Jumud bermakna statis, tak ada perubahan. Karena paham ini umat Islam berpegang kepada tradisi, hal iniditerangkannya dalam Al-Islam Din Al-Ibn wa Al-Madaniah, dan kejumudan ini adalah merupakan hal yang bid’ah dalam Islam. Selain itu menurut beliau selain kembali pada ajaran Islam yang asli juga harus perlu disesuaikan dengan keadaan modern sekarang. Untuk menyesuaikan dasar-dasar itu dengan situasi modern perlu diadakan interprestasi baru, dan untuk itu perlu pintu ijtihad di buka.sebaliknya paham taklid menurut beliau membuat umat Islam berhenti berfikir dan akal mereka akan berkatrat. Dan taklid inilah yang menghambat bangsa Arab, perkembangan susunan masyarakat Islam, syari’at, sistem pendidikan dan sebagainya. Pendapat tentang pembukaan pintu ijtihad dan pemberantasan taklid, berdasarkan pada kepercayaannya pada kekuatan akal. Namun Alquran juga ada membicarakan tentang penggunaan akal, dan Islam memandang bahwa akal memiliki kedudukan yang tinggi. Seperti yang kita lihat dalam Alquran.
Sekolah-sekolah modern perlu dibuka guna menggabungkan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern. Mempermodern sistem pelajaran di Al-Azhar menurut pendapatnya akan mempunyai pengaruh besar dalam berkembangnya usaha-usaha pembaharuan dalam Islam. Dan usaha-usaha nya dalam mengadakan pembaharuan itu terbentur pada tantangan kaum ulama konservatif yang belum dapat melihat faedah perobahan-perobahan yang dianjurkannya. Selanjutnya ia juga memikirkan sekolah pemerintah yang telah didirikan untuk mendidik tenaga-tenaga yang perlu bagi Mesir dalam lapangan administrasi, militer, kesehatan, perindustrian, pendidikan dan sebagainya. Penadapat dan ajarannya yang mempengaruhi dunia Islam pada umaumnya terutama dunia Arabadalah melalui karangan-karangan Muhammad Abduh melalui tulisan para muridnya, seperti majalah Al-Manar dan Tfsir Al-Manar oleh Muhammad Ridha, Tahrir Al-Mar’ah oleh Kasim Amin, dan lain sebagainya.
Muhammad Rasyid Rida, ia adalah seorang murid Muhammad Abduh yang terdekat. Lahir pada tahun 1865 M di Al-Qalamun (sebuah desa di Lebanon yang mendekati kota Tripoli (Suri). Menurut suatu sumber ia berasal dari keturunan Husain, cucu Nabi Muhammad SAW. Semasa kecil ia belajar di madrasah Al-Kitab tradisional di Al-Qalamun, kemudian ia meneruskan studi ke Madrasah Al-Wataniah Al-Islamiah (sekolah nasional Islam) pada tahun 1882 di Tripoli. Ide-idenya banyak dipengaruhi oleh gurunya Al-Syaikh Husain Al-Jisr, Muhammad Abduh, dan Jamaluddin Al-Afghani. Dan ia mencoba menjalankan ide-ide pembaharuan itu di Syuria, namun usahanya itu gagal. Kemudian ia pindah ke Mesir, dan bertemu dengan Muhammad Abduh pada tahun 1989, dan ia membantunya dalam menerbitkan majalahyang termasyhur, Al-Manar. Lalu ia melihat perlu diadakannya tafsir yang dilakukan secara modern, dengan kata lain yang sesuai dengan ide-ide yang lahir dari gurunya. Atas desakannyaakhirnya Muhammad Abduh mengajarkan terjemahan tafsir Qur’an di Al-Azhar pada tahun 1899, dan tafsir itu diteruskan oleh beliau setelah gurunya wafat. Ia juga melihat perlu adanya pembaharuan di dalam bidang pendidikan, oleh karena itu ia menggabungkan antara ilmu agama dengan ilmu umum seperti pelajaran teologi, pendidikan moral, sosiologi, ilmu bumi, sejarah, ekonomi, ilmu hitung, ilmu kesehatan, bahasa-bahasa asing dan ilmu mengatur rumah tangga. Pada tahun 1909 datanglah kepadanya keluhan-keluhan dari negara lain tentang adanya gerakan missi kristenisasi yang manaketika itu ia ingin mendirikan sebuah sekolah, lalu ia pergi ke Cairo untuk mencari bantuan pada tahun 1912, dan dapat didirikanlah sekolah yang dimaksud dengan nama Madrasah Al-Dakwah wa Al-Irsyad. Para lulusan dari sekolah ini akan dikirim ke berbagai dunia Islam yang memerlukan bantuan mereka. Dan sekolah itu tidak berumur panjang karena meletusnya perang dunia I.
Ia terus menggencarkan semangat pembaharuan sampai pada masa tuanya, dan ia wafat tahun 1935. adapun pemikiran pembaharuan yang dimilikinya tidak jauh beda dari Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani, yang mana ia berpendapat bahwa Islam ini mengalami kemunduran karena tidak lagi menganut ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Terhadap sikap fanatik yang ada pada zamannya ia menganjurkan supaya dihidupkan lagi toleransi bermazhab. Dan ia menganjurkan pembaharuan dalam bidang hukum dan penyatuan mazhab hukum, selanjutnya ia menambahkan bahwa penyebab dari kemunduran ini adalah terjadinya faham fatalisme.
2. India-Pakistan
Pada pembaharuan dunia Islam di India Pakistan ini antara lain kita kenal dengan:Gerakan Mujahidin, yang diketuskan oleh Syah Waliyullah (abad ke-18 M), dan selanjutnya diteruskan oleh anaknya Syah Abdul Aziz (1746-1823). Di bawah pimpinan Mawlana Muhammad Qasim Nanantawi dan Mawlana Muhammad Ishaq (cucu Syah Abdul Aziz) pada tahun 1857 mendirikan sebuah perguruan tinggi agama dengan nama DarulUlum Deoband. Dari sinilah lahir ulama-ulama terkemuka India. Gerakan ini diteruskan oleh Maulvi Abdullah (w. 1902) anak dari seorang mujahid bersaudara yang bernama Maulvi Wilayat Ali (w. 1852) yang saudaranya bernama Maulvi Inayat Ali (w. 1858). Gerakan Mujahidin ini bertujuan untuk membersihkan dan memurnikan kembali dasar-dasar keyakinan umat Islam India.
Selain gerakan Mujahidin ad juga pembaharu terkenal di India yaitu Sayyid Ahmad Khan (1817-1898). Adapun usahanya dalam pembaharuan ialah ia mencoba untuk endamaikan antara Inggris dan India, karena di dalam idenya timbul suatu faedah bilaman kedua negara ini dapat berdamai, Inggris ketika itu telah maju dalam berbagai bidang, sedangkan India jauh ketinggalan. Ternyata usahanya itu berhasil dan sangat memberikan manfaat kepadaumat Islam di India. Sayyid Ahmad Khan berpendapat bahwa pendidikanlah satu-satuanya jalan bagi umat Islam India untuk mencapai kemajuan. Dan dalam ide politiknya terlihat pula bahwa umat Islam India tidak dapat bersatu dengan India Hindu yang mayoritas dalam satu negara. Dan akhirnya lahirlah ide Pakistan yang muncul kemudian di abad ke-20.
Disamping itu juga ada gerakan pembaharu yang disebut dengan gerakan Muballigh. Gerakan ini merupakan tindak lanjut dari Dir Sayyid Ahmad Khan, yang berpusatdi sekolah M.A.O.C. pada tahun 1920, perguruan ini dikenal denagn nama UniversitasIslam Aligrah. Dan pemimpinnnya adalah Sayyid Mahdi Ali yang dikenal denagn Nawab Muhsin Al-Mulk 9 1837-1907). Gerakan ini menentang taklid yangmeruapakn tradisi dari ulama klasik dan mengadakan ijtihad baru. Dan bersikap dalam memberantas taklid jauh lebih lembut dari yang dilakukan Sayyid Ahmad Khan. Dan gerakan ini berusaha mengambil daerah yang terpisah, agar kehidupan muslim India yang minoritas ini dapat hidup dengan layak, mereka membentuk delegasi umat Islam pada tahun 1906, dan usulan mereka tersebut diterima. Begitu juga gerakan yang dilakukan oleh Muhammad Iqbal (1876-1938), seorang penyair dan filosof, yang menimbulkan faham dinamisme di kalangan umat Islam dan menunjukkan jalan yang harus yang mereka tempuh untuk masa depan agar kehidupan mereka yang minoritas itu dapat hidup dengan layak, sehingga ia mengemukakan ide untuk berdirinya sebuah negara Islam India yang disebutdenagn Pakistan. Tindakan ini diteruskan oleh Muhammad Ali Jinnah yang berhasil mendirikan wujud negara Pakistan dan diakui oleh negara lain pada 15 Agustus 1947 dan beliau dikenal sebagai Qaidul ‘Azham (pemimpin besar).
3.Indonesia
Kebijakan-kebijakan di bidang Pendidikan Islam oleh Pemerintah harus di baca dalam konteks modernisasi.Pemerintah tidak hanya berusaha memasukkan ilmu pengetahuan ke dalam kurikulum madrasah, lebih dari itu juga berusaha mengintegrasikan madrasah ke dalam sistem pendidikan nasional.Usaha-usaha modernisasi madrasah sudah di lakukan oleh para pemikir pembaharu di masa lampau.Di Minangkabau misalnya, pada tahun 1907 Abdullah Ahmad mendirikan Sekolah Adabiyah.Pada tahun 1915 lembaga ini mengalami transformasi menjadi HIS Adabiyah yang merupakan transformasi pendidikan tradisional menjadi lembaga pendidikan Islam Modern pertama di Nusantara.Muhammadiyah sebagai organisasi sosial Islam yang bercorak modern bahkan tidak menyebut lembaga-lembaga pendidikan yang didirikannya dengan Madrasah, bahkan mereka menyebutnya sekolah.
Perubahan demi perubahan yang dilakukan pemerintah melalui peraturan-peraturan dan juga undang-undang.Perubahan eksistensi pendidikan setelah dikeluarkannya SKB Tiga Menteri yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama Nomor 6 Tahun 1975 dan Nomor 36 Tahun 1975 tanggal 24 Maret 1975 tentang peningkatan mutu pendidikan pada madrasah.Melalui SKB Tiga Menteri tersebut maka kurikulum madrasah tidak lagi 100 % agama, tetapi berubah menjadi 70 % untuk mata pelajaran umum dan 30 % untuk mata pelajaran agama.Ijazah Madrasah sama nilainya dengan ijazah sekolah umum sesuai dengan tingkatannya.Dengan demikian, tamatan madrasah bisa melanjutkan ke sekolah umum ataupun sebaliknya tamatan sekolah umum mempunyai kesempatan untuk melanjutkan ke Madrasah.Maka dengan adanya SKB Tiga Menteri ini dapat dipandang sebagai tonggak integrasi madrasah ke dalam sistem pendidikan Nasional.
SKB Tiga Menteri itu merupakan suatu kompromi dan langkah awal dari pengintegrasian sistem pendidikan Nasional, yang telah belasan tahun kemudian akhirnya terwujud dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional yang antara lain menetapkan bahwa Madrasah merupakan sekolah umum yang bercirikan Islam yang berada di bawah pembinaan dan pengawasan Departemen Agama (Kementerian Agama).Untuk mempersatukan persepsi di bidang pendidikan ini, akhirnya Pemerintah juga telah mengundangkan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional.
F. Penutup.
Hubungan antara Islam dengan negara-negara Barat, seperti penajajahan, delegasi ilmiah atau hubungan ekonomi, telah memberikan dorongan positif dalam melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang menghasilkan gerakan pembaharuan dalam Islam.
Pembaharuan yang terjadi dalam Islam mencakup masalah-masalah sosial dalam berbagai aspek seperti hukum, pendidikan, pemikiran, moral, ,politik dan sebagainya.
Arus utam pembaharuan dalam Islam terjadi di Mesir, India, Iran dan Pakistan yang selanjutnya terus mendorong para tokoh pemikir muslim di negara-negara lain seperti di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
A’la, Maududi, Abul. Khilafah dan Kerajaan, terj. Jakarta: Mizan, 1996.
Amstrong, Karen. Berperang Demi Tuhan, terj. Jakarta: Citra Pustaka, 2001.
Asari, Hasan, Menguak Sejarah Mencari Ibrah : Risalah Sejarah Sosial-Intlektual Muslim Klasik, Bandung : citapustaka Media, 2006
Esposito, Jhon L. Islam dan Politik, terj. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1990.
Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang : PT.Karya Toha Putra, 1994
Suratno, Wahid, Abbas N, Khazanah Sejarah Kebudayaan Islam, Solo : PT.Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2008
K. Ali. Sejarah Islam (Tarikh Pramodern) Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2003.
Karim, Adiwarman. Ekonomi Mikro Islami Jakarta : III T Indonesia, 2002.
Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan,.Bulan Bintang, Jakarta, 1994, cet 10.
Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam, sejarah pemikiran dan gerakan Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
Langganan:
Postingan (Atom)